Saya memperoleh cerita dari seorang sahabat  berikut ini. Beberapa hari lalu seusai berbelanja buku di salah satu mal Jakarta dia dan isterinya mampir ke sebuah restoran. Disitu tersedia beragam makanan ikan laut. Selain seporsi makanan mie sahabat saya juga memesan secangkir teh hijau yang harganya enam ribu rupiah. Sementara sang isterinya memesan air mineral. Ketika pelayan restoran menaruh pesanan minuman teh (sepoci dan secangkir teh), sahabat bertanya apakah harga secangkir mini sampai enam ribu rupiah. Pelayan menjelaskan yang dimaksud harga secangkir teh adalah sepoci teh. Dengan penjelasan itu sang sahabat lalu minta agar dibawakan secangkir kosong. Maksudnya untuk digunakan isterinya. Tetapi sang pelayan tiba-tiba  bilang bahwa kalau memesan secangkir tambahan berarti dia harus membayar enam ribu rupiah lagi. Sahabat saya dan isterinya terheran-heran dengan penjelasan itu. Setelah berdebat “kecil” dengan pelayan mengapa cangkir kosong perlu dibayar maka dia minta pelayan itu memanggil manajer restoran.

Mereka  ingin memperoleh penjelasan yang rinci mengapa ketentuannya seperti itu. Dengan sabarnya sang manajer menjelaskan bahwa walau seorang pengunjung mendapat sepoci teh tetapi yang diperhitungkan adalah jumlah cangkir yang dipesan. Artinya semakin banyak cangkir yang diminta (pesan) walau poci tehnya cuma satu akan semakin mahal bayarnya. Jadi seperti ada uang sewa untuk menggunakan cangkir. Ketika sahabat bertanya apa logikanya? Maka  sang manajer tak mampu memberi penjelasan dengan puas. Ini sudah ketentuan si pemilik restoran, katanya. Pantas saja saya melihat, dalam beberapa kesempatan, restoran itu paling sepi dikunjungi konsumen; kata sang sahabat. Mungkin konsumen lain juga pernah mengalami tindakan yang tidak logis dan bahkan kurang simpatik dari si empunya restoran.

Lalu sahabat saya itu bilang oke dan  tidak jadi minta cangkir kosong. Apa yang kemudian sahabat dan isterinya lakukan? Sang sahabat tetap tenang saja minum dari secangkir teh. Kemudian  setelah teh di dalam cangkir habis diminum lalu cangkir kosong tersebut diisi teh hangat dan diberikan ke isterinya. Hal ini berulang-ulang dan timbal balik dilakukan sampai teh di poci ludes habis. Maksudnya adalah agar sang isteri pun bisa menikmatinya. Nah jadilah mereka terbebas dari uang sewa secangkir teh kosong.  

Saya yakin mereka melakukan hal itu bukannya tidak punya uang atau kikir tetapi bicara tentang logika. Secara akal sehat sepoci penuh teh hangat tak mungkin diminum sendirian. Dan sayang kalau tidak dihabiskan. Karena itu wajar saja kalau mereka minta secangkir kosong lagi agar isterinya  pun bisa minum teh hangat itu. Kewajaran itu bisa terjadi ketika kita bersama teman atau kerabat akan melahap makanan yang porsinya terlalu banyak. Dalam situasi itu maka kita biasa untuk minta disediakan piring kosong untuk isi makanan dan diberikan ke orang lain. Semacam berbagi makanan. Piring tambahan itu ternyata tidak dikenai bayaran “sewa”. Dan  hal ini saya jumpai pula di berbagai restoran di luar negeri.

Kalau kita analogikan contoh di atas ke  dalam fenomena bekerjasama di satu tim  maka sangatlah menarik. Misalnya tenaga dan pendapat kita yang sudah dikeluarkan untuk membantu para sahabat dalam satu tim tidaklah harus dinilai dengan uang. Tindakan kita tersebut harus dimaknai sebagai cerminan keikhlasan dalam membangun kerjasama. Saling tolong menolong untuk meraih kinerja bersama dalam satu tim. Sebab suatu ketika kita pun akan membutuhkan tenaga dan pendapat orang lain. Dan itulah wujud suatu kebersamaan yang sejati dalam menjaga kekompakan tim. Seperti contoh secangkir kosong di atas, seharusnya diperlukan hubungan harmonis antara pengusaha dan konsumen. ”Konsumen adalah raja”. Patut dilayani secara prima. Dengan paham seperti itu, suatu ketika loyalitas konsumen akan bertumbuh cepat.

Iklan