Manajemen perubahan telah menjadi isyu sentral dalam dunia bisnis kurang lebih sejak satu dekade terakhir. Namun belakangan ini tataran pemikirannya cenderung berubah. Terjadi pergeseran pemikiran manajemen dari sisi pemahaman dan pengelolaan perubahan ke pengembangan dan pemeliharaan kecepatan perubahan (Dave Ulrich dan Norm Smallwood; How leaders build values;2003). Perubahan terkait dengan cara-cara mengerjakan sesuatu yang baru; sementara kecepatan  berfokus pada seberapa cepat proses perubahan dilaksanakan. Suatu organisasi yang terilhami dengan kecepatan memiliki pengaruh positif terhadap karyawan, pelanggan, dan investor. Kebanyakan orang ingin serba sesuatu bergerak cepat. Ingin motor, mobil, dan kapal yang berjalan, berlayar dan terbang dengan  cepat. Ketika oganisasi bertindak dengan cepat, karyawan memiliki momentum berkembang yang lebih cepat ketimbang kalau organisasi berjalan lamban dan lesu. Artinya kesejahteraan karyawan termasuk karir dapat lebih cepat ditingkatkan karena profit perusahaan semakin besar. Para pelanggan dapat cepat dilayani kebutuhan dan kepentingannya. Sementara para investor ingin cepat memperoleh pelayanan dalam menginvestasi uangnya.

Kecepatan perubahan suatu organisasi yang semakin tinggi semakin besar peluang memperoleh keuntungan. Manajemen stratejik dapat lebih cepat dilaksanakan seperti mampu lebih cepat masuk pasar global, lebih cepat berinovasi produk, lebih cepat melayani pelanggan, dan lebih cepat meraih efisiensi. Inovasi produk yang semakin dekat dengan kebutuhan pelanggan atau konsumen semakin menguntungkan kedua pihak. Ketika pelanggan semakin puas maka sudah dapat diduga perusahaan pun akan semakin besar keuntungannya. Mengapa? Karena omzet penjualan semakin besar. Pelanggan semakin percaya pada perusahaan yang secara taatasas bergerak cepat dan agresif dalam memasarkan produk  ke pasar baru dan  geografi atau lokasi baru. Dengan kata lain perusahaan semakin kukuh kedudukannya menghadapi para pesaing karena pangsa pasar semakin luas.

Sementara itu kecepatan perubahan dapat memberi semangat kepada para investor. Perusahaan yang bergerak lebih cepat akan membangun kepercayaan di kalangan investor dalam hal inovasi stratejik, inovasi produk, dan inovasi administrasi. Perusahaan yang mampu membagi deviden secara taatasas dan dapat diprakirakan, yang dengan cepat dapat meninjukkan realisasi percepatan pertumbuhan, yang secara jelas memiliki identitas tentang kompetensi utama perusahaan, dan yang mampu dengan cepat membangun talenta, pola pikir maju, akuntabilitas, kolaborasi, dan kepemimpinan akan memberikan kepercayaan yang besar kepada investor.

Bagaimana implikasi tentang pentingnya dimensi kecepatan perubahan bagi percepatan pertumbuhan bisnis di Indonesia? Berdasarkan hasil riset daya saing global The World Economic Forum pada 31 Oktober 2007, peringkat daya saing Indonesia untuk The Global Competitiveness Index (GCI) turun dibanding 2006. Di kalangan negara-negara ASEAN, Singapura menduduki peringkat tertinggi pada The Global Competitiveness Index (GCI), yaitu pada peringkat 7, Malaysia peringkat 21, dan Thailand peringkat 28. Peringkat Indonesia masih di atas Vietnam (68), dan Filipina (71).

         Data tersebut menunjukkan bahwa bisnis Indonesia harus berjuang lebih keras lagi. Belum lagi bahwa derajad kemudahan berbisnis di Indonesia relatif paling rendah dibanding di negara-negara tetangga. Dari sisi makro pemerintah harus memperkecil biaya tinggi dengan memangkas jalur panjang birokrasi tentang perizinan usaha, ekspor, dan kemudahan pelayanan kredit. Infrastruktur harus dibangun. Sementara dari sisi mikro tiap bisnis seharusnya terus menerus mengembangkan sumberdaya manusia, riset dan pengembangan inovasi, teknologi produksi dan informasi,dan perluasan pasar global. Kalau upaya makro dan mikro relatif masih lambat maka posisi daya saing Indonesia di pasar global dan paling tidak di tingkat regional akan semakin terpuruk saja.

        Kalau toh gerak bisnis Indonesia perlu diperkencang maka kecepatannya harus mempertimbangkan beberapa hal. Derajad kecepatan haruslah berkait dengan isu-isu penting dan relevan. Jika sembarangan atau tanpa pertimbangan rasional maka kecepatan tinggi justru akan menyebabkan perusahaan nabrak sana sini; bahkan tabrak lari. Lalu mobil (perusahaan) masuk bengkel untuk pemulihan. Karena itu diperlukan kehati-hatian dalam hal kemampuan menghitung daya kecepatan; misalnya mulailah secara bertahap dari yang paling kecil.  Lambat laun ketika perusahaan semakin terkonsolidasi  kuat maka dengan sendirinya kecepatan tinggi bisa dilakukan. “Persneling mobil yang langsung ke gigi tiga atau empat jelas akan cepat merusak kendaraan”. Selain itu arah atau tujuan kecepatan tinggi juga perlu jelas dan dikendalikan “supir” (manajer) yang profesional. Katakanlah diperlukan penerapan kecepatan yang cerdas. Jangan sampai kecepatan begitu tinggi (langsung gigi tiga-empat) untuk mencapai tujuan pelabuhan udara malah sampai ke terminal angkot dalam kota.

 

Iklan