Bosan atau menjemukan. Ia termasuk kategori perasaan seseorang ketika melihat, mendengar, dan melaksanakan sesuatu. Bosan melihat yang itu-itu saja. Bosan mendengar lagu yang itu-itu saja. Bosan mengerjakan sesuatu yang itu-itu saja. Bosan mengkonsumsi makanan yang itu-itu saja. Bosan……bosan…..dan…..bosan. Pertanyaannya apakah derajad bosan akan sama pada sesuatu yang barusan saja disebut? Apakah juga akan berbeda sejalan dengan perbedaan karakter manusianya? Contohnya, pada awal melihat mobil  yang baru dimilikinya seperti tak ada bosan-bosannya. Namun ketika waktu terus bergulir rasa bosan akan muncul. Semakin lama semakin bosan. Lalu dengan kemampuan ekonomi yang ada terpikirkan mau beli yang lebih baru lagi.

Begitu juga dengan bekerja. Ketika seseorang baru ditunjuk untuk menempati posisi yang baru, bukan main bangganya. Sepertinya posisi itu nempel terus di pikiran dan hatinya dimana saja dan kapan saja. Rasanya tidak pernah bosan. Tetapi ketika kompetensinya sudah mulai berkembang, yang bersangkutan menginginkan posisi pekerjaan yang baru dan lebih menantang. Lalu  posisi pekerjaan yang lama dirasakan membosankan bahkan sampai jatuh ke titik jenuh. Kalau tetap dipertahankan maka produktivitas kerjanya bakal menurun. Karena itulah dalam manajemen sumberdaya manusia dikenal adanya proses rotasi dan mutasi. Tujuannya untuk menghilangkan kebosanan dan sekaligus  memperbesar dan memerkaya otonomi, tanggung jawab, ketrampilan, wawasan, dan meningkatkan kinerja.

Bagaimana dengan proses promosi suatu komoditi? Yang khalayak sasarannya para pelanggan dan konsumen? Yang tuntutannya terhadap mutu dan kemasan yang semakin tinggi? Adakah fenomena bosan bisa juga terjadi? Ya bisa saja muncul. Apalagi kalau tampilan dan isi pesan promosinya tidak menunjukkan warna baru. Tidak menampilkan wujud beda yang unggul dan tidak mudah ditiru pesaingnya. Malah disajikan komoditi dengan model lama dan sangat tidak menarik.  Pasti akan membosankan. Dan ujungnya promosi komoditi itu diabaikan calon konsumen.

Lalu apakah kebosanan bisa juga terjadi kalau ada seseorang yang selalu tampil di media baik cetak maupun elektronik? Untuk memromosikan bahwa dialah seorang pemimpin harapan rakyat? Mengajak ke jalan lurus? Membangkitkan semangat juang bangsa? Mengajak untuk meningkatkan kebangkitan bangsa dalam meraih cita-cita? Di sisi lain ada yang mengajak agar khalayak memilih yang bersangkutan? Dengan seribu janji?

Pasti tidak akan membosankan dan akan efektif jika proses promosi memenuhi beberapa syarat. Pertama, khalayak idealnya mengetahui latar belakang profil   sang calon pemimpin yang sebenarnya. Informasi yang bersifat narsis tentang sang calon sebaiknya dihindari agar khalayak mau menerima apa adanya. Kedua, mengemas isi promosi atau kampanye yang benar-benar realistis dan merupakan kebutuhan khalayak luas khususnya lapisan tertinggal. Selain itu isi promosi  yang disertai tampilan visual seharusnya bervariasi, populer, singkat dan padat. Hindari nuansa menggurui.  Ketiga, frekuensi penampilan sebaiknya jangan terlalu sering. Apalagi di media televisi dengan isi dan visual pesan begitu monoton dan yang itu-itu saja. Pasti membosankan pemirsa. Nah kalau itu terjadi maka berarti kampanye yang dilakukan bakal tidak efektif.

Lebih parah lagi, selama ini banyak calon pemimpin yang gencar berkampanye untuk meningkatkan kesejahteraan, keterbukaan, simpati pada lapisan tertinggal, dsb. Namun tidak konsisten dengan janjinya. Penuh janji namun ketika sudah terpilih tidak direalisasikan. Lupa atau melupakan?. Padahal janji itu adalah utang. Jelas saja kejadian itu bakal meninggalkan citra buruk di tengah-tengah masyarakat.Saya yakin, masyarakat sebenarnya sudah semakin pintar dan kritis. Mereka  tidak ingin memilih calon pemimpin yang kaya kata semata. Melainkan lebih bersimpati pada calon yang  kaya taqwa dan karya.