Dalam prakteknya, perubahan dalam segi apapun belum pasti langsung berjalan mulus. Padahal ketika terjadi dinamika perkembangan berbagai segi kehidupan, perubahan itu merupakan keharusan. Melambungnya harga BBM yang sangat tinggi yang tidak pernah terjadi dalam sepanjang sejarah sebelumnya, perkembangan teknologi informasi, digital, perubahan perilaku konsumen, dan politik mendorong  setiap bisnis dalam pasar global  untuk selalu siap berubah. Misalnya perubahan dalam hal visi dan misi, struktur organisasi, strategi ekspansi bisnis, pengembangan inovasi, dsb. Dengan kata lain perubahan yang terjadi seharusnya dilihat dari dinamika perspektif personal karyawan termasuk kepemimpinan perusahaan,  keorganisasian, segmen pasar, dan perspektif global. Kalau tidak berubah maka perusahaan itu bakal tergilas oleh perubahan itu sendiri. Namun mengapa masih saja ada yang menolak perubahan? Dan bagaimana seharusnya yang dilakukan pimpinan perusahaan?

Penolakan terhadap perubahan internal bisa disebabkab beberapa faktor. Pertama adalah karena rencana perubahan belum dipahami oleh sebagian individu manajemen. Belum jelas apa latar belakang, tujuan dan, manfaat, strategi dan langkah-langkah perubahannya.Untuk menghindari resistensi maka sangat diperlukan melakukan langkah-langkah indentifikasi masalah; analisis masalah; menetapkan tujuan perubahan yang dicirikan spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, relevan, dan memiliki kerangka waktu yang jelas; menyusun alternatif jenis perubahan; menentukan opsi jenis kegiatan perubahan; dan memutuskan perubahan apa yang harus dilakukan. Untuk itu diperlukan pembahasan yang intensif di kalangan manajemen. Kalau sudah disepakati maka diperlukan sosialisasi kepada seluruh karyawan.

Kedua, rencana perubahan ditolak oleh sebagian karyawan, misalnya dalam hal kebijakan perubahan manajemen kompensasi dan pengembangan karir yang kurang menunjukkan pertimbangan rasa keadilan dan persamaan hak. Untuk menghindari resisitensi, setiap bentuk perubahan hendaknya harus menyangkut kepentingan semua pihak. Tidak saja kepentingan perusahaan tetapi juga buat karyawan. Pertimbangannya karena karyawan adalah aset produksi sekaligus aset perusahaan yang memiliki ragam kebutuhan. Secara manusiawi mereka ingin diperlakukan secara adil.  

Ketiga, resistensi bisa terjadi kerana dalam pelaksanaannya ternyata telah ditemukan penyimpangan dari rencana perubahan yang disepakati semua pihak. Dengan kata lain telah mengalami ketidak-taatasasan. Disini diperlukan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Utamanya untuk menghindari deviasi negatif. Untuk itu dibutuhkan alat ukur yang obyektif untuk menilai sejauh mana proses perubahan telah berhasil sesuai harapan. Disamping itu kepada semua individu dilibatkan untuk melakukan observasi pelaksanaan perubahan. Mereka diberi hak untuk melaporkan kalau terjadi kekeliruan. Disinilah diperlukan pendekatan yang transparan dan akuntabilitas.

Keempat, bisa jadi penolakan terhadap perubahan karena sebagian manajemen atau individu karyawan sudah “senang” dengan kondisi yang ada. Istilahnya mereka tergolong yang sudah mapan pada posisi pekerjaannya. Menurutnya buat apalagi susah-susah melakukan perubahan. Dianggapnya kalau terjadi perubahan pasti akan menimbulkan resiko yang tidak kecil. Untuk mencegah timbulnya jenis resistensi seperti ini pihak manajemen puncak harus melakukan sosialisasi yang intensif mulai dari manajemen menengah sampai di tingkat operasional. Pemahaman tentang perlunya pembaharuan perlu dikembangkan secara sistematis. Karena itu perlu juga disosialisasikan betapa pentingnya perusahaan harus siap dengan tantangan yang adaptif dan respon atau kepekaan yang adaptif. Mengapa demikian? Karena apa yang terjadi pada dunia bisnis adalah suatu ketidakpastian.

 

Iklan