Kita pasti punya teman. Dan sudah tahu bagaimana membangun persahabatan. Namun hubungan persahabatan dalam suatu pekerjaan tampaknya berbeda. Kalau di luar pekerjaan mendapatkan teman adalah tujuan dalam suatu kehidupan sosial. Namun di dalam lingkungan pekerjaan, kita bersosialisasi bertujuan untuk menjadi seorang teman kerja. Karena bekerja dalam suatu tim maka membangun persahabatan menjadi sangat penting. Disitu ada proses kerjasama timbal balik antarkaryawan. Ada saling kebergantungan. Tujuannya memperoleh saling manfaat. Kalau kerjasama tidak terjadi berarti setiap individu akan bekerja sendiri-sendiri atau dalam subkelompok yang terpisah. Proses  koordinasi akan mengalami kesulitan. Dan jelas pendekatan seperti itu sangatlah tidak efektif. Karena itu perlu diterapkan cara-cara bagaimana menjadi seorang teman ideal; harapan lingkungan kerja yang solid.

Pada dasarnya prinsip-prinsip membangun persahabatan di lingkungan pekerjaan hampir sama dengan persahabatan pada umumnya. Yang pertama adalah bagaimana kita mampu menjadi seorang pendengar yang baik. Konon teman sejati dicirikan oleh kemampuan dan kemauannya dalam mendengar dan memahami apa yang dibicarakan oleh rekan kerja. Tentunya dilakukan dengan perasaan paling terdalam. Kalau perlu plus dengan rasa atau ketrampilan berhumor. Kita akan mendukung rekan kerja ketika dia berjuang untuk kesejahteraan karyawan; kita akan mengoreksinya dengan penuh perhatian ketika dia gagal melakukan sesuatu; dan kita memaafkannya ketika dia berbuat keliru.

Selain itu teman sejati akan mendorong teman kerja dalam meningkatkan kualitas kepribadian yang bersangkutan. Kita sepatutnya merasa senang kalau ada rekan kerja yang mampu berkembang. Dengan demikian kemampuan mendengar sebenarnya mengandung makna bahwa salah satu kebutuhan yang bersifat manusiawi adalah kebutuhan memahami dan dipahami orang lain. Ketika itu tercapai maka pasti kita akan merindukan rekan kerja dan juga sebaliknya mereka akan selalu mencari kita untuk tempat bercurhat ria. Tempat berbagi perasaan masing-masing. Semuanya itu bakal terjadi karena telah terbangunnya suatu saling pengertian dan saling mengingatkan satu sama lainnya.

Agar berlanjut, kondisi persahabatan hendaknya tidak cuma dibatasi pada lingkup pekerjaan saja. Seharusnya hal itu dapat dikembangkan menjadi persahabatan dimana dan kapan saja. Semakin baik hubungan seperti itu maka semakin baik hubungan kerja dalam suatu tim. Dalam pemahaman pekerjaan maka seorang teman sejati tidak akan ragu untuk mengungkapkan suatu kebenaran ketika yang lainnya tidak mengatakannya. Memang kadang terjadi dilematis. Kalau dikatakan apa adanya, dikhawatirkan persahabatan akan retak. Sementara kalau tidak diungkapkan maka proses pekerjaan akan terganggu. Karena itu, pemahaman saling mengingatkan bisa saja dikembangkan menjadi saling memperingatkan satu sama lain kalau berbuat keliru. Tentu saja disampaikan dalam waktu dan tempat yang cocok. Kalau merasa menjadi sahabat maka tidak ada alasan akan timbul konflik personal.

Dengan demikian lewat  persahabatan, karyawan akan  mampu menempatkannya sebagai dasar untuk membangun kerjasama tim. Karyawan hendaknya tulus untuk menjadi teman. Hubungan yang baik diantara karyawan akan mampu membangun tim kerja yang tangguh. Selain itu persahabatan merupakan fondasi pencapaian keberhasilan individu, tim, dan perusahaan. Dalam jangka panjang, keberhasilan tak mungkin tercapai tanpa didukung oleh ketrampilan para karyawan dalam membangun persahabatan. Kemampuan untuk bekerjasama akan berhasil jika berlandaskan asas saling manfaat.