Saya memerkirakan setiap kita pernah mengalami bertemu dan bahkan berhubungan dengan seseorang yang cerdas dan trampil namun berperilaku kasar. Trampil  dalam berkarya namun “miskin” kemampuan dalam berinteraksi sosial. Ketika berhadapan dengan rekan kerja, manajer, dan pelanggan; karyawan yang tergolong seperti ini berada dalam jalur tidak normal. Kalau bicara cenderung blak-blakan dan  kasar. Di sisi lain sepertinya  menunjukkan ketulusan namun sebenarnya dia cengeng dan mudah tersinggung. Suka  merasa terpuji padahal sebenarnya gadungan. Ketika dia tergesa-gesa bekerja, namun tiba-tiba saja berhenti tanpa alasan jelas. Maka tidak jarang karyawan yang berperilaku seperti ini dianggap tergolong tak berguna. Bahkan ada yang menyebutnya sampah. Lalu bagaimana pendekatannya?

Karyawan yang trampil bekerja tetapi kurang trampil dalam berinteraksi sosial sering menimbulkan masalah sosial di lingkungan kerjanya. Ada muatan keegoan yang tinggi. Lebih parahnya lagi ditambah dengan sifat yang kasar terhadap orang lain. Karyawan tipe seperti ini kurang memiliki empati terhadap orang lain. Dan juga tidak merasa khawatir sedikitpun atas konsekuensi segala tingkahnya. Bisa dibayangkan apa yang terjadi kalau mereka ditempatkan di bagian yang melayani pelanggan. Yang seharusnya tampil dengan kaya senyum malah tampil dengan wajah sangar. Yang seharusnya dilakukan dengan pendekatan simpatik malah antipati. Tentu saja yang timbul adalah ketegangan di kalangan pelanggan karena diperlakukan tidak semestinya. Lambat laun loyalitas pelanggan semakin berkurang.

Dalam prakteknya lebih mudah mengubah seseorang yang kurang trampil bekerja ketimbang mengubah ketrampilan berinteraksi sosial yang lemah. Kalau toh dilakukan lewat pelatihan akan butuh waktu yang tidak sedikit. Bagi perusahaan tentu saja hal ini akan menimbulkan pemborosan. Karena itu pendekatan tambahan adalah dengan melakukan pendekatan khusus personalia secara intensif. Selain itu mengajak mereka untuk menghadiri seminar yang menyangkut perilaku ideal dari seorang karyawan. Kemudian agar kondisi itu tidak terulang lagi maka perusahaan sejak awal penerimaan karyawan baru perlu memperketat sistem rekrutmen dan seleksi pelamar. Tes kepribadian menjadi sangat penting.

 

 

 

Iklan