Pada dasarnya kedudukan suatu gagasan adalah sebagai unsur investasi dari suatu organisasi.  Misalnya gagasan berupa visi tentang  perusahaan. Implikasinya, bagaimana investasi tersebut dilaksanakan dengan menggunakan pengetahuan atau ketrampilan teknis untuk mengembangkan perusahaan. Untuk itu perlu diterjemahkan ke dalam kegiatan-kegiatan seperti menilai  peluang-peluang utama apa saja untuk bisa masuk ke industri dan atau pasar. Setelah itu perlu dirancang apa strategi bisnis yang tergolong unik untuk merealisasikan visi perusahaan. Dan kemudian bagaimana kompetensi inti perusahaan ditetapkan.

Dalam prakteknya, kompetensi inti perusahaan akan dicerminkan oleh kebutuhan pengetahuan teknis apa saja yang akan digunakan. Keterkaitan  kompetensi dengan strategi bisnis akan dicerminkan oleh rangkaian proses yang diawali dari sumber gagasan berupa inovasi produk paten yang merupakan hasil dari riset dan pengembangan. Kemudian proses berikutnya dicerminkan oleh produktivitas dan efisiensi. Ketika produk dihasilkan maka hal itu tidak lepas dari bagaimana membangun kepercayaan pelanggan. Untuk itu  perusahaan harus mengembangkan citra produk  mereka dilihat dari mutu, harga, pelayanan, dan kepastian suplai di pasar. Karena itulah dimensi distribusi dan salurannya menjadi hal yang sangat penting sesuai dengan segmen pasar. Keseluruhan proses itu akan diikuti dengan umpan balik yang berguna untuk menyusun strategi inovasi teknologi baru. Dalam perkembangan jangka panjang kompetensi inti itu sendiri bisa berubah sesuai dengan perkembangan pasar dan teknologi.

Orisinilitas dari konsep kompetensi berfokus pada pengetahuan dan perilaku individu. Menurut Prahalad dan Gary Hamel, kompetensi inti perusahaan membuat adanya pergeseran yakni dari individual ke organisasi sebagai unit analisis dan dari aspek-aspek sosio-budaya ke ha-hal yang sifatnya lebih teknis.  Hal itu didasarkan pada analisis peran professional dan/atau formulasi tanggung jawab professional. Pernyataan kompetensi menjelaskan hasil yang diharapkan dari kinerja dan dari fungsi yang terkait secara professional, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sangat penting untuk kinerja fungsi tersebut. Pernyataan kompetensi tersebut memfasilitasi penilaian yang berpatokan pada kriteria tertentu. Dalam hal ini kompetensi diperlukan sebagai alat prediksi tentatif atas efektifitas professional dan harus mengikuti prosedur validasi terus menerus.

Kompetensi inti beragam sesuai dengan jenis industrinya. Sebagai contoh, dalam bisnis farmasi, kompetensi inti bermuara pada komersialisasi produk-produk riset dan pengembangan yang siap diserap pasar. Sementara, dalam bisnis distribusi, logistik menjadi kompetensi utamanya. Perusahaan distribusi harus memiliki kemampuan untuk mengumpulkan, mengapalkan, dan mendistribusikan paket-paket logistik secara tepat waktu. Jadi perusahaan yang paling baik adalah yang mampu menciptakan nilai pasar yang tinggi. tiap perusahaan harus memiliki kompetensi inti yang memenuhi syarat-syarat untuk sukses di pasar. Misalnya perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan harus berbasis pada mutu pelayanan yang prima, produksi mobil harus memiliki mutu manufaktur yang andal, dan bidang konsultan harus memiliki perjanjian dengan klien yang jelas.

Kompetensi inti sangat terikat dengan fokus strategi perusahaan. Dalam industri, sebuah perusahaan harus memiliki perbedaan keunggulan dengan para pesaingnya. Untuk itu pemimpin perusahaan dapat menentukan satu dari beberapa pilihan utama dari fokus strategis. Misalnya, kalau strateginya berfokus pada  inovasi produk maka perusahaan akan bersaing melalui produk-produk baru. Kalau strateginya efisiensi usaha maka perusahaan harus bersaing dalam pengurangan biaya agar bisnisnya semakin efisien. Hal yang lain adalah kalau strateginya membangun loyalitas  pelanggan maka hubungan dengan para pelanggan perlu ditingkatkan. Kalau strateginya dalam hal distribusi maka perusahaan harus mampu bersaing dalam menciptakan saluran yang banyak dan agar produk yang sampai di pelanggan menjadi efisien. Sementara, kalau strateginya dalam hal teknologi maka perusahaan harus mampu bersaing dalam mengambil sisi keunggulan dari suatu teknologi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Peran pemimpin perusahaan sangatlah strategis untuk menetapkan dan mengembangkan kompetensi inti perusahaan. Para investor akan menjadi lebih tertarik untuk menanamkan sahamnya  apabila kompetensi inti perusahaan tersebut mampu memenuhi ekspektasi pasar yang tinggi. Untuk itu kompetensi inti ini baru akan dapat dipenuhi kalau setiap individu dalam perusahaan itu juga memiliki kompetensi inti berupa tingkat pengetahuan, sikap, ketrampilan, karakter dan nilai pribadi, dan motivasi kerja yang tinggi .