Sekecil apapun, saya percaya tiap orang seharusnya punya tanggung jawab. Apakah itu tanggung jawab akan ucapannya, tulisannya ataukah karena tindakannya. Di kalangan mahasiswa saya selalu menanamkan prinsip tentang tanggung jawab ilmiah. Dalam arti sempit setiap yang ditulis dan diucapkan dalam seminar, ujian skripsi, tesis, dan disertasi, misalnya, sang mahasiswa harus mampu dan siap mempertanggung jawabkannya secara ilmiah pula. Tidak ada alasan mereka tidak mampu atau tidak mau mempertanggung jawabkan kalau benar-benar mereka menguasai konsep, teori, dan empirik dari isyu yang dibahasnya. Termasuk dalam memahami tentang etika akademik. Kalau tidak mampu berarti ada beberapa kemungkinan sebagai penyebabnya. Pertama sang mahasiswa tidak menguasai bidang ilmunya; kedua, mahasiswa asal menulis dan menjiplak tulisan orang lain; dan ketiga tidak memahami dan bahkan melanggar etika akademik. Termasuk mereka yang harus bertanggung jawab dalam dunia akademik adalah kalangan dosennya. Misalnya mengapa sering menunda-nunda mengajar, membimbing mahasiswa tidak karuan sehingga memperlambat kelulusan bimbingannya, dan sering meninggalkan tugas akademik karena ada tugas di luar yang lebih “aduhai”.  

Bagaimana di dunia non-akademik, seperti dalam dunia bisnis? Sebenarnya sama saja. Setiap individu dengan posisi apapun harus mampu dan berani mempertanggung jawabkan apa yang diungkapkan, ditulis, dan dikerjakannya. Kalau mereka sebagai karyawan maka harus bertanggung jawab dalam hal proses pekerjaannya, kemungkinan kegagalannya, kemungkinan manipulasi sumberdaya, dan  kinerjanya yang menurun. Kalau mereka sebagai manajer maka dia harus bertanggung jawab dalam mengelola karyawannya agar proses pekerjaan yang berlangsung berhasil secara optimum. Dia patut bertanggung jawab, misalnya kalau terjadi konflik di antara karyawan, dan kalau target produksi dan penjualannya tidak terpenuhi.

Bagaimana dalam dunia politik dan organisasi massa? Lagi-lagi sama saja. Setiap pemimpin organisasi harus mampu mempertanggung jawabkan kegagalan program-programnya. Bahkan manakala timbul kejadian yang mencederai orang lain karena perilaku anarkis sebagian para anggotanya. Mereka harus mau dan mampu mempertanggung jawabkan mengapa hal itu bisa terjadi. Karena itu mereka harus memiliki transparansi dan akuntabilitas serta integritas sosial politik. Kalau tidak, pemimpin organisasi itu tidak memiliki karakter kuat dalam memperjuangkan program-programnya untuk mencapai tujuan organisasinya. Dengan kata lain tidak mau dan mampu mempertanggung jawabkan segala ucapan dan tindakannya ke organisasi dan ke publik. Apalagi misalnya dalam kerangka perbuatan anarkis dan kekerasan. Tidak ada alasan untuk lari dari tanggung jawab. Kalau itu dilakukan maka pemimpin itu termasuk golongan ingkar dari janji-janjinya untuk mengembangkan pendidikan politik secara sehat. Sementara anak buahnya siap mempertanggung jawabkan perbuatannya namun sang pemimpin malah lari  bersembunyi. Lepas dari tanggung jawab. Padahal tanggung jawab adalah bagian dari amanah yang diterima dari organisasi,  dari sebagian publik; dan bahkan sebagai salah satu ajaran dari agama.

 

Iklan