Seekor kuda tidak selalu akan menuruti apa yang diperintahkan oleh sang jokinya. Contohnya, ketika di siang hari bolong, logika sederhana mengatakan siapapun dia sebagai mahluk hidup pasti akan kehausan. Lalu sang Joki membawa  kudanya ke pinggir sungai  agar ia mau minum. Ternyata menolak. Artinya sang kuda tidak termotivasi oleh perlakuan tuannya. Nah, bagaimana dengan upaya memotivasi karyawan? Tidak sedikit beragam upaya memotivasi ternyata tidak berpengaruh nyata terhadap perubahan perilaku karyawan. Berarti ada yang salah dalam menerapkan cara-cara memotivasi.

Berikut ada beberapa pikiran yang keliru dalam memotivasi karyawan yakni (Marilyn Pincus, Managing Difficult People, 2004):

·  “apa yang memotivasi saya maka otomatis dapat memotivasi orang lain”.

·  “tiap orang pasti termotivasi utamanya karena uang”

·  “tiap orang senang menerima imbalan formal”

·  “tim kerja akan termotivasi oleh quota produksi”

·  ”karyawan saya semuanya profesional, jadi mereka tidak butuh dimotivasi”

·  ”saya baru akan memikirkan bentuk motivasi yang akan saya berikan ketika timbul  suatu masalah karyawan”

·  ”saya akan memperlakukan tiap karyawan dengan hal yang sama”

·  ”sekali saya tahu cara terbaik untuk memotivasi seseorang, saya akan tetap menerapkannya lagi kapan pun”

Contoh-contoh di atas tidak lepas dari asumsi yang digunakan. Artinya faktor keragaman kepribadian seseorang dianggap  nol atau seragam. Disamping itu dimensi waktu dan ruang dianggap sama. Padahal tiap orang memiliki keunikannya masing-masing. Begitu pula dimensi waktu dan ruang juga tidak bisa dianggap semua sama. Tidaklah tepat, misalnya, pemberian jenis motivasi yang sama kepada mereka yang tergolong malas dan yang rajin. Juga akan berbeda perlakuannya kepada orang yang ekstrovet dan introvet. Begitu pula pasti akan berbeda kalau memotivasi karyawan di tingkat direksi dan dengan yang cuma berstatus operator. Apakah sang karyawan orangnya mudah emosional ataukah rasional juga akan membedakan apa motivasi yang paling tepat untuk kedua tipe karyawan tersebut. Juga demikian ketika karyawan sedang bersedih hati dan sedang bersuka cita.

Kalau tiap karyawan diperlakukan sama maka justru akan kontra produktif. Sebab derajad respon dan kepekaan terhadap bentuk motivasi akan berbeda-beda sesuai dengan karakteristik karyawan dan perbedaan dimensi waktu dan ruang. Ada yang elastis dan ada yang inelastis. Ada yang memandang jenis motivasi yang diterima biasa-biasa saja tetapi ada yang memandangnya sangat luar biasa.Karena itulah ketika perusahaan akan memotivasi karyawan tertentu seharusnya sudah mengetahui secara dini karakter karyawan bersangkutan dalam waktu dan ruang tertentu.