Katakanlah anda seorang manajer pemasaran yang membawahkan sejumlah karyawan. Beberapa karyawan diminta oleh anda untuk membuat  gagasan tertentu tentang strategi pemasaran produk perusahaan. Namun ternyata tidak semua aktif menyiapkan gagasan yang anda minta. Timbul pertanyaan  anda,  apakah mungkin di antara karyawan ada yang termasuk    mudah menyerah ketika sedang memikirkan, membuat, dan menyampaikan gagasan  kepada orang lain? Atau dengan kata lain tidak mampu menyelesaikannya? Kemudian anda menilainya mungkin  mereka termasuk orang yang kurang percaya diri dan termasuk golongan pesimis, gagasannya tak akan diterima orang lain? Kalau toh diterima lalu apakah bakal dijalankan?  Dan mereka khawatir serta kecewa kalau gagasannya tidak ada tindak lanjutnya? Anda tentunya tidak berdiam diri. Anda seharusnya melatih mereka untuk mampu membuat gagasan apalagi yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.

Sebagai seorang manajer maka hendaknya anda mensosialisasikan di kalangan karyawan mengenai filosofi di balik kemampuan seseorang melahirkan suatu gagasan. Kedudukan gagasan dalam suatu perusahaan begitu pentingnya. Ekstremnya,  modal usaha dan jumlah karyawan tertentu relatif  lebih mudah didapatkan. Namun lahirnya gagasan tidak semudah itu. Gagasan  merupakan buah dari kombinasi investasi intelektual, investasi fisik, dan investasi emosional. Dengan investasi intelektual dimaksudkan sebagai proses pengalokasian waktu dalam memikirkan sesuatu, menyusun perencanaan, dan mengambil keputusan yang dikeluarkan untuk mengumpulkan, menciptakan, dan menyaring sebuah gagasan. Investasi fisik merupakan proses penyiapan sesuatu untuk mengadakan pertemuan dan atau presentasi gagasan yang biasanya membutuhkan waktu banyak, upaya, dan sumberdaya. Sementara investasi emosional  diindikasikan ketika seseorang memiliki suatu gagasan cemerlang yang tidak saja bermanfaat bagi pengembangan perusahaan tetapi juga untuk pengembangan karir yang bersangkutan.

            Di kebanyakan perusahaan Jepang tidak jarang dilakukan kompetisi di antara para karyawannya untuk membuat gagasan-gagasan inovasi baru. Termasuk gagasan yang mungkin bersifat konyol. Mereka dilatih untuk selalu berpikir bagaimana menemukan sesuatu yang baru. Tiap karyawan yang mampu menghasilkan gagasan apalagi yang terbaik diberikan penghargaan.Gagasan karyawan merupakan aset berharga dari perusahaan. Kemampuan berkembang atau bersaing dari suatu perusahaan sangat ditentukan oleh kekayaan intelektual dalam bentuk gagasan-gagasan baru atau maju para karyawan dan tentunya para manajernya. Karena itu kalau perusahaan mampu melakukan sosialisasi dan internalisasi budaya gagasan maka tiap manajer dan karyawan tidak pernah  merasakan puas akan karya-karyanya. Selalu saja ada upaya untuk memperbaharui performanya.

Salah satu bentuk sosialisasi gagasan adalah menampilkan keteladanan dan perhatian seorang manajer selaku pemimpin terhadap gagasan para karyawannya. Manajer hendaknya mau dan mampu mendengarkan semua gagasan yang berkembang. Hindari apriori terhadap gagasan karyawan sekalipun bisa saja suatu gagasan terkesan “usang” dan tidak masuk akal. Apalagi langsung menolaknya tanpa melakukan investigasi mendalam. Selain itu manajer sebaiknya tidak  memutuskan sesuatu begitu cepatnya hanya dengan mempertimbangkan dari satu gagasan saja. Biasanya manajer seperti ini termasuk pemimpin yang terlalu berorientasi pada kegiatan jangka pendek. Semacam pendekatan instan cepat ingin melihat hasilnya. Resiko kegagalannya akan lebih besar ketimbang mempertimbangkan sesuatu dari banyak gagasan. Karena itu sangatlah bijaksana kalau manajer membuka kesempatan kepada siapapun karyawan yang akan menyalurkan gagasannya. Lebih-lebih lagi kalau manajer menghindari terjadinya bias penilaian pada aspek personaliti karyawan. Begitu pula manajer akan semakin arif lagi apabila mau mendorong dan melindungi setiap kreatifitas dan gagasan para karyawannya.