Selasa, Mei 27th, 2008


 

Pemerintah baru saja menaikkan harga bahan bakar minyak. Tidak ayal lagi, kondisi itu akan memberikan efek domino. Kenaikan harga minyak yang jelas bakal diikuti dengan kenaikan harga bahan pokok akibat dari tarif transportasi yang juga tak terelakan ikut naik. Dampak langsung atau tak langsung terhadap kehidupan di tingkat makro (bangsa) dan kehidupan mikro (rumahtangga) sudah dirasakan. Pertumbuhan ekonomi yang dipatok sebesar 6.5% pasti akan turun dengan kenaikan reit inflasi. Tidak sedikit perusahaan-perusahaan, mulai dari kelas atas sampai menengah dan kecil menderita kesulitan berproduksi dan memasarkan hasil karena biaya produksi yang melangit di satu sisi dan melemahnya daya beli konsumen di sisi lain. Dalam situasi tersebut tak terhindarkan lagi perusahaan-perusahaan diperkirakan akan melakukan rasionalisasi kerja secara total. Dengan perkataan lain diperkirakan akan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi sebagian pekerja

Kalau ini terjadi maka akan menambah panjang jumlah penganggur yang diperkirakan akan mencapal sekitar 10 juta orang. Suatu angka pengangguran yang sangat fantastis. Hampir-hampir dalam tiga dekade terakhir ini bangsa Indonesia tidak pernah mengalaminya. Fenomena di tingkat mikro secara signifikan dicirikan oleh makin melemahnya pendapatan riil masyarakat. Selain itu rasio ketergantungan anggota keluarga yang tidak produktif terhadap yang produktif semakin tinggi. Dengan demikian, beban keluarga semakin besar. Dalam situasi tersebut belum diketahui pasti apakah juga akan terjadi PHK terhadap Asisten Rumahtangga (ART) secara besar-besaran.

Perilaku lain pada ekonomi keluarga yang signifikan akan tampak pada sisi konsumsi. Tidak kecil kemungkinannya bahwa banyak keluarga yang akan mengubah pola konsumsi apakah dalam segi jumlah, kualitas maupun frekuensinya. Diversifikasi menu secara terpaksa akan teriadi, terutama pada keluarga marjinal. Substitusi beras ke bahan makanan seperti umbi-umbian dan jagung mungkin saja akan terjadi. Misalnya,  substitusi daging dan ikan telah terjadi dalam bentuk konsumsi tempe dan tahu. Akan tetapi harga dua komoditi bahan makanan ini, tahu dan tempe, saat ini juga ikut merangkak naik sebagai akibat komponen impor kedele yang tinggi. Belum diketahui pasti apa pengganti bahan makanan tersebut.

Khususnya di keluarga pertanian marjinal, perubahan juga terjadi pada pola distribusi konsumsi pangan keluarga. Distribusi pangan di antara keluarga, baik dalam hal jumlah maupun kualitas jenis pangan akan semakin seragam dengan lauk pauk sederhana, bahkan mungkin tanpa sayur sama sekali. Akan terjadi pula proses trade off dimana porsi pengeluaran keluarga untuk pangan akan semakin besar dibanding untuk pendidikan anggota keluarga, rekreasi dan kesehatan. Kalau porsi tersebut semakin membengkak, ciri kemakmuran yang semakin menurun sulit dicegah. Yang jelas standar gizi keluarga apakah dilihat dari kandungan kalori maupun protein sebagian besar masyarakat akan mengalami penurunan.

Dalam situasi ekonomi yang chaos, sepertinya teori hirarki kebutuhan dari Abraham Maslow menjadi bermakna. Maslow membuat hirarki kebutuhan manusia mulai dari kebutuhan dasar fisik (makanan, pakaian, rumah) sampai kebutuhan aktualisasi diri. Disini Maslow berangkat dari pandangan bahwa manusia tidak akan berdaya hidupnya jika kebutuhan fisiknya tidak dipenuhi lebih dahulu. Tidak mungkin kebutuhan sosial (kasih mengasihi), rasa aman, harga diri, dan aktualisasi diri akan terujud tanpa kebutuhan fisik terpenuhi secara layak. Dalam hal ini saya tak setuju dengan pandangan Maslow. Sekaligus pula, sepertinya Maslow membantah motto masyarakat lawa yang berpandangan “makan tidak makan asal kumpul” dan mengubahnya menjadi “kumpul tidak kumpul asal makan”. Pertanyaannya apa upaya strategis yang perlu dilakukan keluarga?

Upaya strategis yang dikenal di tingkat keluarga adalah coping mechanism. Ciri upaya ini adalah bagaimana suatu keluarga harus mampu mempertahankan kehidupan dengan cara apa pun. Tidak saja dalam bentuk legal tetapi juga ilegal. Dalam bentuk legal, tiap keluarga akan terpaksa menjual aset produksi,  penjualan aset keluarga atau bekerja serabutan, termasuk pengerahan tenaga kerja keluarga yang sedang bersekolah. Sedangkan cara ilegal dapat berbentuk tindakan-tindakan kriminal dan atau menjadi pengemis di perkotaan. Dua yang terakhir ini akan menambah kerumitan sosial saja dan sekaligus menambah beban sosial masyarakat (Social cost) yang besar.

Catatan: sebagian isi artikel berasal dari Sjafri Mangkuprawira, 2003, Mengapa program padat karya diperlukan, Majalah Agrimedia IPB.

Iklan

            Produktivitas dan mutu kerja karyawan dipengaruhi faktor-faktor yang terkait dengan lingkungan kerja; antara lain beban kerja berlebihan yang tidak dapat diperkirakan, perubahan-perubahan di akhir waktu yang dirancang, kurangnya peralatan yang sempurna, dan tidak efisiennya alir kerja. Dengan demikian, penting untuk menjamin bahwa kerja itu dirancang untuk mencapai produktivitas dan mutu maksimum. Beberapa strategi  untuk merancang lingkungan kerja dalam memenuhi tujuan organisasi yaitu tercapainya mutu dan produktivitas tinggi. Strategi dimaksud antara lain; rancangan tempat kerja atau ergonomik, komputerisasi dan mesin otomatik, dan rancangan pekerjaan ( pengayaan, perluasan, dan rotasi pekerjaan),

vStrategi Perancangan Kerja Kembali:

ØPerbaikan alur kerja yang jelas.

ØPengurangan gerak fisik yang berulang-ulang yang menyebabkan mudah lelah.

ØMenyesuaikan sinar lampu dengan kondisi ruangan kerja.

ØMembolehkan karyawan untuk melakukan kegiatan pribadi di sekitar tempat kerja.

ØMenggunakan warna ruangan kerja yang menyenangkan.

ØMenyediakan kantor privat dan ruang kerja nyaman.

ØMenyediakan tempat atau ruang istirahat.

ØPenyusunan, penyesuaian dan pemindahan peralatan, bagian-bagian pokok dan ruang kerja.

ØMenempatkan sesama para anggota tim secara berdekatan  sehingga mereka dapat berinteraksi dengan mudah.

ØMenyediakan peralatan kursi, meja dan lemari  kantor yang sesuai dengan kondisi tubuh dan kegiatan kerja karyawan.

vKomputerisasi dan Alat Otomatik:

ØMemberitahukan pada karyawan tentang manfaat komputer dan alat otomatik.

ØMelibatkan karyawan dalam keputusan untuk operasionalisasi  komputerisasi.

ØMengkomunikasikan isu-isu implementasi kepada seluruh karyawan seperti bagaimana dan kapan komputer digunakan, pekerjaan apa yang dapat menggunakan komputer dan masalah-masalah yang dihadapi.

ØMelatih karyawan tertentu dalam mengunakan komputer dan alat otomatik dan mengevaluasi hasil pelatihannya.

ØMembolehkan  para karyawan memanfaatkan waktunya untuk mempraktikkan pengetahuannya dalam menggunakan komputer dan alat otomatik.

ØMemiliki staf pemelihara alat-alat baru yang tersedia setiap saat untuk memperbaiki alat.

ØMeningkatkan kualitas peralatan secara berkala.

vPendekatan Rancangan Pekerjaan:

ØPengayaan Pekerjaan: Tujuannya adalah untuk meningkatkan motivasi, kepuasan dan kinerja karyawan. Ada lima  karakteristik inti dari pekerjaan yang dibangun sedemikian rupa dalam suatu pekerjaan  karyawan yaitu mengalami beberapa kondisi psikologis krusial, termasuk memperoleh pekerjaan yang bermanfaat, perasaan tanggungjawab, dan memiliki pengetahuan dari hasil aktual dari kegiatan bekerja. Dengan demikian akan diperoleh luaran  berupa motivasi yang lebih tinggi, peningkatan kepuasan kerja, dan rendahnya ketidakhadiran dan jumlah karyawan yang keluar. Lima hal inti tersebut yaitu:

üKeragaman keterampilan; derajad dari tugas yang dilaksanakan dengan syarat kemampuan dan keterampilan berbeda.

üIdentitas tugas; melengkapi keseluruhan jenis pekerjaan yang dapat diidentifikasi yang memiliki hasil yang dapat dilihat seperti penyiapan laporan keuangan dan perakitan sebuah radio.

üSignifikansi tugas; derajad suatu pekerjaan tertentu yang memiliki kepentingan dan manfaat.

üOtonomi; derajad kebebasan dan keleluasaan yang dijinkan sesuai dengan skedul dan prosedur kerja.

üUmpanbalik ; menunjukkan jumlah informasi langsung yang diterima dalam keefektifan kinerja pekerjaan.

ØRotasi Pekerjaan: Suatu tehnik perancangan kembali suatu pekerjaan yang hanya diperuntukkan bagi karyawan yang punya kesempatan untuk pindah dari pekerjaan yang satu ke yang lainnya untuk belajar  dan memperoleh pengalaman dari keragaman tugas. Manfaatnya, antara lain meningkatkan keterampilan karyawan dalam melakukan pekerjaan lebih dari satu tugas.

ØPerluasan Pekerjaan: Pemberian pekerjaan tambahan kepada karyawan agar mereka mendapat pengetahuan dan pengalaman serta tanggungjawab baru. Syaratnya adalah beban kerja karyawan tidak menjadi berlebihan di atas standar operasi kerja organisasi.