Hi Mir, apa kabar; sehat? Wow, betapa cerahnya wajah anda hari ini. Apa kabar anak-anak di rumah? Gimana si kecil, sudah sembuh? Blablabla…..dengan wajah senyum di bibir sang manajer. Itulah sapaan kecil hangat disampaikan manajer kepada karyawannya. Bisa diduga sang karyawan merasa tersanjung karena bosnya memberi perhatian kepadanya. Dia merasa diperlakukan sebagai manusia apa adanya. Seperti tak ada jarak hirarki sosial dengan sang manajer. Pertanyaannya apakah  setiap manajer siap dan tulus memberi sapaan hangat pada karyawannya?

Sapaan merupakan jenis komunikasi personal. Banyak manfaatnya bagi membangun suasana kekeluargaan. Namun mengapa tidak jarang manajer enggan melakukan hal itu pada subordinasinya. Menurutnya, sapaan dianggap sebagai basa-basi saja. Hanya untuk memperoleh kesan ramah. Pandangan seperti itu bisa jadi karena sang manajer hanya menerapkan prinsip-prinsip komunikasi formal belaka. Perilaku komunikasinya sering kaku. Semacam ada jarak dan isi pesan pun bernuansa formal tentang pekerjaan semata. Padahal sebagai manusia, komunikasi informal berupa sapaan hangat bisa dilakukan pihak manajer. Lalu bagaimana caranya mempelajari dan mempraktekan ketrampilan bersapa hangat yang bermanfaat itu? Tentunya dengan cara yang ikhlas?

Pertama, upayakan menyapa karyawan dengan nama kesehariannya. Dengan menyebut nama akan memberi kesan akrab. Hi Man; Mat; Dul; Sri.  Dengan kata lain hindari menyapa karyawan hanya dengan sebutan: anda; saudara,   kecuali sudah diawali dengan namanya. Kedua, kalau menyapa perlu mempertimbangkan minat dan kondisi keluarga sang karyawan. Untuk itu diperlukan riset kecil tentang profil karyawan. Hindari sapaan di luar itu apalagi yang sangat erat dengan pekerjaannya. Misalnya kalau sehabis karyawan liburan maka sapalah dengan:…..bagaimana liburannya Mat? Atau kalau ada isterinya sedang sakit, manajer bisa bersapa……bagaimana kemajuan kesehatan isterimu Dul?….dst. Namun frekuensi sapaan haruslah proporsional dan wajar-wajar saja. Kalau sangat sering atau setiap bertemu bersapa ria bisa jadi membosankan. Lalu makna kehangatan jadi hilang. Ketiga, walau ada hubungannya dengan pekerjaan, jangan lupa berikan sapaan dalam bentuk perhatian. Misalnya karyawan memiliki ide tertentu maka tidak salahnya manajer menyapanya; wah bagus sekali idemu itu…….ok teruskan untuk dicoba ya Sri…….Keempat, upayakan sekali-sekali berkontak ria dengan karyawan; dari satu ruangan ke ruangan lain. Namun  hindari kesan berlebihan seolah manajer sedang mengontrol proses pekerjaan karyawannya.  Bukannya kehangatan malah kegugupan karyawan yang timbul.

Saya tidak tahu apakah para manajer melakukannya. Tetapi yang sudah pasti ketika unsur-unsur di luar pekerjaan menjadi perhatian sang manajer maka disitulah terjadi interaksi sosial yang bagus. Kalau instruksi dengan mudah bisa disampaikan mengapa sapaan hangat sulit diungkapkan? Mengapa harus merasa dirinya rendah ketika dia menyapa subordinasinya? Yang penting sapaan adalah ungkapan spontan dan tulus dari seseorang karena memiliki rasa simpati dan empati pada orang lain. Artinya sang manajer melihat bahwa sapaan hangat mampu menciptakan ikatan kekeluargaan yang hangat-mesra-intim (HMI). Pada gilirannya sang karyawan akan termotivasi untuk bekerja lebih baik lagi. Terpacu karena ada semacam kepuasan bathin ketika memperoleh pengakuan psikologis dari bos. Sapaan hangat tampaknya sepele tapi ternyata indah.

 

 

 

 

 

Iklan