Saya pernah sangat gugup  ketika pertama kali diminta memberi sambutan di depan publik, empat puluh tiga tahun lalu. Ketika itu, 1965,  saya diminta mengkoordinasi penyelenggaraan suatu pelatihan dasar keorganisasian dari salah satu organisasi ekstra universiter. Karena saya tidak pernah berorganisasi maka kegugupan pertama yang muncul adalah ketika akan menyusun rencana kegiatan dan pembiayaan pelatihan. Dan gugup lagi ketika memimpin rapat panitia pelatihan tersebut. Pengalaman saya nol. Benar-benar  gugup bagaimana caranya membuat agenda, cara menyampaikan ide, dan cara menyanggah pendapat orang sebaik-baiknya. Untuk itu saya tidak perlu merasa malu bertanya kepada teman yang lebih berpengalaman bagaimana sebaiknya yang harus saya perbuat. Begitu pula saya harus bertanya kepada orang lain dan belajar keras bagaimana caranya agar dalam berbicara di depan orang dan kelompok tidak gugup.

Gugup akan terjadi tidak saja ketika yang bersangkutan sedang berbicara di depan umum tetapi juga misalnya ketika sedang wawancara. Bisa jadi kikuk dan tidak enak dilihat orang lain. Begitu pula ketika seorang karyawan yang punya kesalahan bisa gugup kalau sedang menghadapi sang bos. Kalau mahasiswa gugup, bisa terjadi ketika akan dan sedang berkonsultasi dengan dosen yang bersikap “ja-im”. Ada gejala panik, takut salah ngomong, dan cemas. Sampai-sampai keluar keringat dingin sambil jari tangan diremas-remas. Dan bahkan ada yang gigit-gigit kuku.  

Sifat gugup pada seseorang adalah hal lumrah. Dalam prakteknya kegugupan disebabkan faktor-faktor rendahnya pengalaman berkomunikasi, kurang percaya diri apalagi di hadapan orang lain yang berstatus sosial lebih tinggi, kurang mempersiapkan diri, berpikiran negatif terhadap orang lain, dan kurang fokus dalam mempersiapkan dan mengerjakan sesuatu. Berdasarkan hal itu maka pendekatan yang perlu diterapkan dalam mengatasi kegugupan adalah dengan cara mengidentifikasi mengapa  masalah gugup terjadi. Apakah karena unsur intrinsik ataukah ekstrinsik. Pendekatan ini perlu dilakukan mengingat kegugupan akan menggangu proses dan hasil pekerjaan. Kalau tidak, maka gugup disertai stres dan trauma akan mengganggu harmoni kehidupan proses pekerjaan dalam jangka panjang.

Beberapa cara mengatasi kegugupan antara lain dapat dilakukan:

Ø      Banyak melakukan interaksi sosial dengan semua lapisan masyarakat. Semakin dekat dan intensif dalam bersosialisasi yang dilakukan semakin kecil terjadinya kegugupan.

Ø      Banyak belajar dari pengalaman hidup langsung dan tidak langsung dari beragam rujukan cara-cara mengatasi kugugupan.

Ø      Berpikirlah positif terhadap orang lain. Rasa curiga berlebihan akan meningkatkan rasa gugup.

Ø      Sebaiknya fokus dan berkonsentrasi dalam mempersiapkan dan melaksanakan suatu pekerjaan tertentu. Kegugupan akan terjadi kalau kita tidak fokus dan tidak siap melakukan sesuatu.

Ø      Seharusnya selalu tampil percaya diri pada situasi apapun. Hal demikian baru bisa terjadi kalau kita mampu membangun  keyakinan akan kemampuan diri. Dan kalau berbicara lakukan dengan cara kontak mata langsung dengan lawan bicara disertai tampilan sikap rendah hati. Bukan rendah diri yang justru bakal menimbulkan kegugupan.

 

About these ads