Cobalah lihat diri kita di cermin. Merenung sebentar. Lalu bertanya apakah kita sebagai sang penunda? Penunda pekerjaan; penunda janji; penunda pemecahan masalah; termasuk penunda menjalankan ibadah, dan  lainnya? Mungkin  sebagai seorang manajer pernah menunda pengusulan promosi karyawannya. Sebagai orangtua pernah menunda anaknya untuk menyekolahkan ke perguruan tinggi. Mungkin pula sebagai bupati menunda janji-janji menarik yang pernah disampaikan dalam masa kampanye pilkada. Atau kalau sebagai dosen menunda waktu kuliah. Atau menunda mengoreksi hasil ujian atau proposal dan karya tulis mahasiswa yang bisa jadi sampai satu semester lebih.

Sangatlah manusiawi, setiap orang pernah menunda sesuatu karena berbagai alasan. Misalnya pekerjaan yang membuat bosan lalu ditunda penyelesaiannya. Bisa jadi pula karena tidak yakin apakah yang akan dikerjakan akan berhasil dengan baik, maka pekerjaan itu ditunda dahulu. Ada lagi alasan lain yaitu kalau perasaan sedang dirundung malang lalu menunda pekerjaan atau pemecahan masalah. Namun ada pula yang menunda sesuatu karena ketersedian waktu dan fasilitas yang sangat kurang. Bahkan kalau pejabat, biasa mengatakan ”lebih baik kita tunda dahulu sampai ada juklak (petunjuk pelaksanaan) dan juknis (petunjuk teknis)nya dari atasan”. Kalau dosen, penundaan pekerjaan diduga karena beratnya beban tridarma ditambah lagi beban pekerjaan jabatan struktural.

Dalam dunia kerja, penunda  selalu meminta waktu yang lebih panjang untuk mengerjakan sesuatu sampai selesai. Di sebagian kalangan birokrasi hal itu boleh jadi dalam melayani publik. Semakin sedikit gizi (amplop) yang diberikan publik pada pelayan (petugas) semakin lama penyelesaian pelayanannya. Contoh lainnya, boleh percaya atau tidak  ada dosen yang memeriksa hasil ujian mahasiswa sampai satu semester lebih. Dan anehnya itu terjadi di hampir tiap periode dimana dia diberikan tugas mengajar. Tampaknya sudah semacam habit. Berapa lama pun waktu diberikan dan beberapa kali ditegur tetap saja  penyelesaian koreksi ujian selalu terlambat.

Penundaan sesuatu agaknya ada hubungan dekat dengan sifat malas seseorang Dari sisi ekstremnya,  perilaku menunda lama kelamaan cenderung menjadi perilaku yang ujungnya menjadi pembohong. Membohongi diri dan sekaligus memperdayakan publik. Lebih ekstremnya lagi sebagai pengingkar janji atau pengingkar amanah. Sifat tersebut merupakan akumulasi proses yang cukup panjang. Mulai dari penundaan dengan alasan yang sederhana sampai alasan yang rumit. Tanpa peduli dengan tuntutan lingkungan, lama kelamaan penundaan sesuatu dianggap sebagai hal yang biasa. Maka jadilah penunda yang kronis.

Alasan menunda karena masih banyak waktu tidak selalu rasional karena rekan kerja lainnya mampu mengerjakan sesuatu dengan waktu standar. Dan walau sudah diberi tambahan waktu pun belum tentu mampu menyelesaikan pekerjaannya. Padahal menunda satu masalah sama saja bakal menambah jumlah  masalah yang dihadapinya. Lebih repot jadinya. Dalam keadaan seperti itu kinerja mereka cenderung rendah.  Kalau tidak diambil jalan keluar, hal demikian lambat laun akan mengganggu suasana kerja. Pada gilirannya akan menurunkan kinerja perusahaan. Karena itu penunda kronis perlu disupervisi oleh para penyelia secara intensif. Selain itu manajer harus sudah siap mengganti sementara sang penunda dengan orang lain untuk mengerjakan yang ditundanya.

 

Iklan