ABIS? Ya asal bapak-ibu (isteri) senang.Jadi kalau ingin disenangi atasan, tidak cukup hanya dengan memperlakukan bos (bapak) senang (ABS) tetapi juga ibu atau isterinya ikut senang. Nah bagaimana kalau bosnya seorang wanita? Ya jadinya AIBS atau asal ibu dan bapak senang. Aib berarti  kesalahan, cela, dan kehinaan. Lalu apa hubungannya dengan korupsi? Dengan pertanyaan lain, apa peran isteri sehingga sang bapak (suaminya) terjerat tindakan korupsi? Tindakan melawan hukum?

Sang isteri bisa sebagai pendamping setia suami yang tangguh. Sejak ijab kabul diikrarkan, sang isteri siap selalu hidup apa adanya dengan suami tercinta. Mengarungi kehidupan yang penuh tantangan pun dia setia. Gunjang ganjing dan rayuan maut para isteri yang lain dengan konsumerisme dan materialistis sigap dihadapi dengan segala kerendahan hati untuk tidak terpengaruh. Tidak lupa mengucapkan istighfar. Tak ada pengaruhnya untuk merengek-rengek di hadapan sang suami untuk minta harta berlebihan. Dia sangat tahu bahwa suaminya adalah pegawai yang jujur. Anti melakukan apa yang disebut korupsi. Bahkan sang isteri selalu mendorong agar suami selalu memegang amanah walau di tengah-tengah kehidupan ekonomi yang sulit.

Namun disisi lain ada sang isteri yang justru membuat iklim materialistis di dalam keluarganya. Sudah tahu bahwa suaminya pegawai negeri dengan penghasilan yang pas-pasan tetap saja ingin hidup bermewah-mewahan. Pokoknya sang ibu tidak mau tahu sumber uangnya dari mana. Dia tetap saja minta agar permintaannya dipenuhi.Ketika itu terjadi maka sangatlah mungkin sang isteri merayu suaminya untuk melakukan perbuatan tercela.  Dengan kekuasaan dan peluang yang dimilikinya, sang suami dapat melakukan hal itu. Jadilah dia seorang koruptor. Ketika itu terjadi maka sang isteri mendekati keluarga sang bos dari suaminya. Membawa semacam hadiah atau upeti buat sang isteri dari bosnya. Pokoknya agar sang bos dan isteri bos senang. Tindakan  yang sebenarnya hanya dapat dinikmati sesaat. Namun akibat laknat akan siap menunggunya.

Dalam menyambut seratus tahun hari ibu internasional maka sangatlah relevan kaum isteri selalu mengevaluasi diri. Sudah seberapa jauh mereka mampu sebagai pendamping setia sang suami. Sudah sejauh mana selalu mendorong suaminya mengemban amanah dalam melaksanakan tugas-tugasnya di kantor dan masyarakat. Saya percaya sebagian terbesar kaum isteri setia. Setia untuk tidak terjebak dalam perbuatan yang membuat sang suami mengalami kesusahan. Setia untuk mampu hidup dan mengarungi kehidupan di jalan yang lurus. Sebab mereka percaya bahwa Allah tidak akan menutup pintu rezki selama yang bersangkutan memegang amanah atau kejujuran.

Iklan