Kamis kemarin merupakan puncak acara purnabakti saya. Disiapkan sejak November tahun lalu oleh delapan mantan bimbingan (S1 dan S2) saya yang menjadi dosen di IPB.  Mereka sudah menjadi ilmuwan tangguh. Enam orang  bergelar PhD (lima orang di luar negeri dan seorang di IPB) dan dua orang master yang sedang studi PhD. Dibantu oleh enam orang bimbingan saya yang baru lulus strata satu. Mereka merayakan sebagai tanda apresiasi kepada gurunya, katanya. Padahal  sejak awal saya sudah menolak karena saya adalah orang biasa dan tetap ingin sebagai orang biasa ketika pensiun. Namun tetap saja mereka bersikukuh merayakannya.

Sebenarnya apa makna dari purnabakti itu? Apakah seseorang yang sudah selesai sebagai PNS lalu selesai pula tugas-tugasnya terutama kepada masyarakat? Dari buku purnabakti berjudul Pak Sjafri:Guru, Ayah, dan Sahabat Kami (setebal 211 halaman, IPB Press), disitu sebagian besar kolega, sahabat, mahasiswa, dan karyawan menuliskan bahwa purnabakti dari saya bukanlah berarti segalanya berakhir. Pernyataan Purnabakti hanyalah bentuk formal saja. Masih ada medan dan kegiatan lain. Bahkan ada yang mengatakan purnabakti hanya ditandai oleh berkurangnya gaji dan tunjangan saja. Sementara panggilan bakti tetap masih menanti sang pensiunan. Demikian mereka berpendapat dan berharap. Bagi saya walau sudah pensiun insya allah saya akan tetap mengajar, membimbing, meneliti, dan menulis termasuk berblog ria. Ibadah tidak pernah mengenal kata henti. Mengapa? Karena ibadah itu adalah panggilan jiwa dan  indah.

Acara yang diadakan di kampus Manajemen Bisnis IPB itu dihadiri oleh sekitar 250 orang termasuk di dalamnya rektor, wakil rektor, dekan, dan pimpinan lembaga, pimpinan dan anggota senat akademik, pimpinan dan anggota Dewan Guru Besar, tiga orang mantan menteri, dan para sahabat (kolega dan karyawan) serta  mahasiswa bimbingan. Acara diisi dengan diskusi membahas tiga buah pemikiran saya yakni Pertanian, Kemiskinan, dan Kecerdasan Bangsa; Pengaruh Perubahan Dunia terhadap Manajemen Mutu SDM; dan Pengembangan kurikulum ilmu manajemen. Sebagai pembahas adalah Prof.Dr.Payaman Simanjuntak, Prof.Dr.Bomer Pasaribu, dan Ir Nurul Bariah MBA. Diskusi sangat menarik di tengah-tengah krisis tingginya harga bahan bakar minyak, tingginya harga pangan pokok, dan kelangkaan pangan. Berdasarkan tema diskusi maka peningkatan mutu SDM menjadi keharusan kalau bangsa kita mau unggul di segala bidang kehidupan khususnya di sektor pertanian pada era global ini.

Dalam kesempatan itu lewat media tayangan disajikan kilas balik ”bakti” saya selama 39 tahun di IPB dan luar IPB. Selain itu diluncurkan buku terbaru saya berjudul Horison:Bisnis, Manajemen, dan SDM (tebal 312 halaman;IPB Press). Sebagian besar isi buku merupakan kumpulan artikel yang  dimuat pada blog Rona Wajah yang saya asuh. Ini terbukti bahwa blog itu punya manfaat ganda; yakni sebagai syiar kebajikan dalam bentuk informasi ilmiah lewat dunia maya dan juga artikelnya bisa dibukukan. Kalau sudah menjadi buku berarti ia merupakan dokumen yang akan eksis sampai kapan pun. Para hadirin termasuk mahasiswa memperoleh buku itu plus buku purnabakti secara gratis.

Kembali ke makna acara purnabakti. Kesan pribadi saya, acara purnabakti merupakan suatu kilas balik yang harus disyukuri oleh saya. Di sisi lain sanjungan-sanjungan yang diungkapkan secara tertulis dalam buku purnabakti dan orasi dalam acara tersebut merupakan bagian dari ujian hidup saya. Saya tidak harus tenggelam dengan segala sanjungan. Saya tidak boleh menjadi angkuh karena sanjungan. Sanjungan seharusnya mengingatkan dan mendorong saya selalu berkontribusi nyata buat siapa pun, kapan pun dan dimana pun dengan segala kerendahan hati.

 

Iklan