Ah cuma gertak sambal!!! Tidak serius! Demikian ada seseorang yang merasa tak khawatir kalau digertak oleh orang tertentu. Bahkan tidak jarang dibalas dengan gertakan pula. Paling tidak diajukan pertanyaan mengapa menggertak. Tetapi ada juga kalau  orang lain  menggertak lalu yang digertak langsung gemetaran. Dengan kata lain hatinya ciut-ketakutan!  Inti ciri dari menggertak yakni adanya kemarahan dan kekecewaan disertai intimidasi,  mengancam, dan bahkan sampai menyiksa orang lain.  Ada gertakan putih dan gertakan hitam. Medianya bisa lisan bisa tulisan. Gertakan putih, tidak harus dengan suara keras atau tinggi; populer misalnya yang dilakukan oleh kalangan bos kepada karyawan dengan segala bentuk ancaman. Sementara ada gertakan hitam yang disertai dengan memalak orang lain. Termasuk merampok sambil mengancam akan membunuh. Dalam hal ini gertakan  bisa dilakukan oleh siapa saja. Dari masyarakat yang konon “terpelajar” sampai kelompok kriminal. Bisa lelaki atau perempuan, tua atau muda,  anak kecil dan orang dewasa bahkan orang yang sudah tua. Kalau demikian  apakah gertak menggertak bisa juga terjadi di organisasi perusahaan?

 

Seperti telah diungkapkan,  gertakan bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk pelaku bisnis di organisasi perusahaan. Lingkupnya, berupa gertakan yang terjadi pada hubungan vertikal antara bos dan subordinasi. Atau  terjadi pada hubungan horisontal yaitu sesama tingkatan posisi pekerjaan. Gertakan biasa dilakukan oleh orang yang merasa super pada orang yang merasa dirinya subordinasi. Orang yang tersudut. Beberapa contoh antara lain ketika subordinasi berulang kali, misalnya melakukan ketidak-disiplinan kerja, maka gertakan bos disertai ancaman penundaan karir sampai pemecatan bisa muncul. Sebaliknya kalau kelompok karyawan merasa terdholimi oleh perusahaan maka mereka bisa menggertak bos dengan menggerakan rekan-rekan karyawan lainnya untuk mogok kerja. Sementara gertakan antarkaryawan biasanya terjadi karena perselisihan paham pribadi di antara mereka. Pertanyaannya apa akibat dari gertakan di perusahaan?

 

Gertakan di perusahaan bisa berakibat sekurang-kurangnya pada dua hal. Gertakan timbul karena adanya ketegangan di kalangan bos atau manajer yang terkait dengan beberapa penyakit tertentu seperti sakit kepala dan tekanan darah tinggi. Ini mempercepat timbulnya gertakan kepada subordinasi. Konsekuensinya bisa jadi meningkatnya ketidak hadiran dan keterlambatan hadir kerja di kalangan karyawan. Dan yang kedua kalau para pelanggan akan menggertak perusahaan  dengan cara mengancam akan tidak loyal pada perusahaan lagi. Bahkan mengancam perusahaan dengan cara  akan mengadukan ke pihak berwajib karena merasa ditipu tentang mutu barang yang dibelinya.Akibatnya perusahaan akan merugi. Nah perusahaan misalnya, dapat menghilangkan gertakan dari pelanggan dengan cara mempertahankan dan bahkan meningkatkan mutu produk dengan harga terjangkau.  Bagaimana mencegah terjadinya gertakan di kalangan manajer?

 

Beberapa taktik pencegahan timbulnya gertakan yang dapat diterapkan manajer  antara lain adalah pertama: jangan biarkan tiap ledakan perasaan masuk ke kancah “pertempuran” dengan orang lain. Untuk itu bertanyalah pada diri sendiri apa untung ruginya menggertak. Apakah gertakan cuma  satu-satunya cara termudah menyelesaikan persoalan? Boleh saja marah menghadapai karyawan yang kurang disiplin atau performanya rendah. Tetapi harus dijelaskan mengapa timbul marah. Tanpa harus disertai ancaman dalam bentuk gertakan. Artinya dilakukan dengan cara persuasi saja kalau sedang kesal dengan karyawan. Dengan kata lain menggunakan nurani dan hati yang jernih. Kemudian cara lain adalah fokus pada pemecahan masalah tanpa harus disertai ketegangan bathin. Itu artinya memecahkan masalah tanpa diikuti dengan masalah baru. Jagalah keseimbangan emosi. Ajaklah mereka yang terlibat dalam masalah untuk mengatasinya. Mengajak berarti menghargai potensi dan perasaan orang lain. Dan yang ketiga bisa  dengan cara menawarkan lebih dari satu pendekatan masalah. Kemudian dianalisis mana skenario pemecahan masalah yang paling layak. Dengan cara ini ketegangan dapat diperkecil karena terjadinya proses diskusi yang interaktif-konstruktif. Suasana saling mengerti dikembangkan oleh manajer. Dengan demikian ketegangan yang dapat menimbulkan gertakan-gertakan dari sang manajer dapat diminimumkan. Aman dan tenteram.

           

 

Iklan