Hari  kelahiran Kartini 129 tahun yang lalu (21 April 1879) baru saja dirayakan terutama di berbagai organisasi perempuan dan sekolah-sekolah. Tanggal 21 April ditetapkan sebagai hari nasional. Hal ini dilakukan mengingat jasa-jasa Beliau yang besar. Almarhumah Kartini pada tahun 1964  dianugerahi penghargaan atas kepeloporannya sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah. Dia merupakan pejuang dan pelopor gerakan kesetaraan martabat kaum perempuan dengan kaum laki-laki, khususnya di bidang pendidikan. Gagasan-gagasan dan cita-citanya bagi kaum perempuan ditulis dalam surat menyurat dengan para sahabatnya, baik yang ada di Batavia maupun di Belanda. Ada dua kumpulan surat-suratnya yaitu Habis Gelap Terbitlah Terang (terjemahan Armijn Pane) dan Panggil Aku Kartini Saja (terjemahan Pramudya Ananta Tur).

Seperti biasa pada tiap hari Kartini, siswa-siswa perempuan berkebaya ria atau pakaian daerah lainnya. Saya tidak tahu apa motifnya. Apakah karena Kartini sebagai orang Jawa atau karena kebaya mencirikan identitas femininitas. Selain kebaya, ada juga siswa wanita yang memakai baju seragam jururawat, Polwan, Kowad dsb. Pokoknya ramai dengan aneka warna jenis dan model pakaian. Mungkin keragaman pakaian itu mencerminkan  kelembutan kaum perempuan dan  sekaligus cerminan kemampuan mereka berkiprah dan berprofesi di beragam bidang pekerjaan.       

Asesori berupa baju perempuan telah sangat melekat pada tiap acara peringatan hari kelahiran Kartini. Hampir-hampir tak pernah terabaikan. Pertanyaannya apakah cita-cita dan semangat perjuangan Kartini juga sudah melekat secara merata di kalangan anak bangsa? Kalau melihat dari segi pendidikan dan profesi pekerjaan agaknya tidak perlu diragukan.  Tidak perlu ada persaingan di antara dua entitas laki-laki (Kartono) dan perempuan (Kartini). Ranah domestik kaum perempuan telah mengalami transformasi.  Tadinya mereka lebih berkiprah di ranah domestik saja. Sekarang banyak yang berkiprah di ranah publik (ekonomi, sosial dan politik). Tentunya  tanpa harus menimbulkan disharmonisasi keluarga. Hanya masalahnya, apakah sudah merata di berbagai daerah sampai di pelosok perdesaan? Ketika kemiskinan masih menjadi fenomena nasional apakah kesetaraan pendidikan antara anak laki-laki dan perempuan terjadi? Bagaimana dengan kekerasan terhadap kaum perempuan? Bagaimana pula dengan eksploitasi seks pada kaum perempuan? Bagaimana dengan perdagangan perempuan? Dan…dan….dan lainnya?

Pusat Studi Kajian Wanita dan Gerakan Kaum Perempuan telah banyak berdiri di pusat bahkan di berbagai daerah. Kajian dan asupan-asupan tentang peningkatan kaum perempuan dalam pembangunan sudah begitu banyak dan sering diseminarkan. Tinggal melaksanakannya saja. Namun harus diakui masih ada  terjadi distorsi karena masih terjadinya salahtafsir dalam pemahaman kesetaraan gender (relasi sosial antara perempuan dan laki-laki) dilihat dari berbagai perspektif. Terutama dari sisi agama dan budaya. Ya masih perlu diperjuangkan secara lebih sistematis dan bersambung. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun (an-Nisaa; 124).

Bentuk kesataraan yang kasat mata adalah dalam hal pakaian. Kalau sebelum awal 60’an masih kita saksikan hampir semua perempuan pada semua strata sosial berpakaian rok. Maka  lama kelamaan dengan semakin hebatnya media komunikasi maka ‘demonstration effect’ tak terbendung. Pilihan-pilihan mode begitu terbuka. Nah tak ayal lagi terjadi sudut pandang yang semakin mengglobal tentang makna dan cara berpakaian. Serba praktis dan modes. Pilihannya adalah mengubah pakaian rok menjadi pakaian celana panjang dengan segala gayanya. Ya  tanpa harus kehilangan sosok femininnya. Padahal dahulunya celana panjang dominan dipakai kaum laki-laki. Saya pribadi terkadang suka merindukan kapan kaum perempuan  kembali ke khitah yakni berpakaian rok. Tentunya yang ‘sopan’. Saya percaya ia akan semakin feminin saja. Tapi siapa yang mau memulainya…..ya? Diadopsi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira, 2007, Rona Wajah, IPB Press.

Iklan