Keterampilan berujar di dalam berkomunikasi lisan adalah kemampuan mengekspresikan bahan pembicaraan dalam bahasa kata-kata (lisan). Dalam hal ini  siapapun termasuk manajer yang tergolong pemula seharusnya  mengetahui cara mengungkapkan pesan yang akan disampaikannya kepada publik atau karyawan. Tidak ada aturan yang standar, mengikat, dan kaku dalam penggunaannya, baik menyangkut panjang dan rincian uraian yang akan disampaikan. Semuanya akan bergantung pada unsur tingkat pengalaman, panjang pembicaraan, konten pembicaraan (bersifat teknis, penuh angka-angka, atau narasi), serta waktu bicara yang tersedia.  Namun, tidaklah bijaksana untuk membacakan bahan pembicaraan secara lengkap (kecuali pidato pejabat tinggi) karena itu akan mengubah kejadian berkomunikasi menjadi kegiatan “membaca bersama”.  Selain itu, sebagai pembicara, manajer pun akan terpaku pada apa yang sudah ditulis dan bahasa penyampaian pun menjadi kaku. Dalam hal ini, penggunaan potongan kartu-kartu pointers pembicaraan atau kertas transparansi sebagai pengingat yang juga akan membantu penumbuhan rasa percaya diri.

Berbagai cara yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan efektivitas penampilan komunikasi ujaran yang dilakukan oleh pembicara, manajer misalnya, adalah sebagai berikut (Hubeis, AV, 2005):

(1)   Percaya diri: Ingatlah, bahwa tiap orang pada umumnya, berharap untuk mendengar pembicaraan terburuk yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Tapi, pada saat yang bersamaan, mereka pun berharap mendengar pembicaraan yang terbaik. Karena itu, jika manajer dapat berbicara lebih baik daripada perkiraan mereka maka dukungan dan penghargaan akan diperolehnya.

(2)   Layangkan pandangan mata  (ke kiri, ke kanan, atau ke tengah)  untuk menemukan pendengar yang paling menaruh perhatian dan bersimpati terhadap pembicaraan yang akan disampaikan.  Jangan mulai sebelum menemukan orang seperti ini. Alasannya sederhana, yaitu sebagai pembicara, manajer bukan hanya memerlukan orang yang menggunakan telinganya untuk mendengar tetapi juga yang memasang matanya. (Catatan: jangan sekali-kali memusatkan perhatian pada orang yang tidak menaruh perhatian karena akan membuat grogi. Kecuali, jika mempunyai otoritas atau kekuasaan untuk menegur. Atau manajer memiliki mental yang lebih kuat sehingga mampu menatap orang yang tidak memperhatikan pembicaraan dengan lirikan mata seakan-akan menegur). Menemukan orang yang menggunakan telinganya dan sekaligus mata-hatinya untuk mendengarkan pembicaraan yang disampaikan tidaklah mudah, tetapi  berdasar pengalaman ternyata di dalam setiap forum komunikasi akan selalu ditemukan orang-orang seperti ini. Jadi carilah untuk memperoleh teman bicara spiritual.

(3)   Menarik napas dalam-dalam, dua sampai tiga kali untuk mengurangi ketegangan. Mengatur napas dilakukan secara normal dan jangan terkesan seperti orang yang sedang dikejar. Kalau perlu hentikan sebentar pembicaraan, selain untuk mengambil napas juga berfungsi untuk menarik perhatian.  Tujuannya adalah untuk menumbuhkan keyakinan diri dan menghilangkan “demam panggung” (sulit mengeluarkan kata-kata).

(4)   Melakukan tatapan mata kepada individu atau kelompok tertentu pada saat berbicara untuk memperoleh keyakinan bahwa mereka memperhatikan konten yang sedang dibicarakan untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Jika keberanian untuk melakukan hal ini belum ada, layangkan tatapan mata kebagian pendengar di barisan belakang. Kekhawatiran itu akan terkikis sedikit demi sedikit selama berbicara sehingga akhirnya timbul keberanian menatap pada satu arah pendengar tertentu. Jangan lupa memberi keseimbangan tatapan, berganti arah. Jangan sekali-kali menatap ke bahan pembicaraan/menunduk selama berbicara.

(5)   Pengaturan suara bicara yaitu:

*        Mengatur volume suara agar lebih keras dari biasanya. Caranya adalah dengan mengatur agar suara dapat didengar oleh jajaran orang yang duduk (berdiri) paling jauh dari tempat bicara. Cara ini tidak hanya berlaku jika waktu berbicara tidak ada media elektronik tapi juga pada saat menggunakan media elektronik (mik). Bukankah sering terjadi dalam forum-forum komunikasi dimana seorang pembicara yang sudah menggunakan mik pun masih tetap tidak terdengar suaranya, karena terlalu sayup-sayup.

*        Menggunakan perkataan yang biasa dipakai sehari-hari. Bahasa canggih, umumnya hanya digunakan dalam bahasa tulisan bukan bahasa lisan. Intinya, orang akan lebih tertarik mendengar pembicaraan yang akrab di telinganya daripada yang tidak dimengertinya.

*        Mengucapkan kata-kata dengan jelas dan perlahan-lahan. Berikan aksentuasi (tekanan kata) untuk hak-hal yang dianggap penting. Bicara dengan wajar, paling tidak seperti biasanya berbicara dalam keseharian. Jangan terkesan seperti penyiar atau sedang berdeklamasi.

*        Atur irama dan tekanan suara, dan jangan monoton. Gunakan tekanan dan irama tertentu untuk menampilkan poin-poin tertentu, seperti marah dengan nada tinggi, sedih dengan suara memelas, dst. Tapi, hindarkan kesan sebagai pemain drama.

*        Menghindari sindrom EEM, AH, ANU, APA, .. dst. Jika  terpojok dan kehabisan bicara, atau lupa cukup berhenti sebentar. Cara ini seakan-akan menunjukkan pembicara sedang berpikir dan lebih memberi dampak positip dibanding mengatakan … apa ya, … eh .. apa ya.  Cara ini hanya menunjukkan ketidaksiapan pembicara atau kurang menguasai konten yang akan dibicarakan.

(6)    Membaca paragraf tertentu yang dianggap penting dari teks tulisan. Jangan merasa malu melakukan ini, karena orang berpikir pembicara hanya ingin menekankan poin pembicaraan tertentu agar lebih lengkap dan jelas.

(7)    Siapkan air minum (terutama untuk mereka yang seringkali kehabisan napas jika berbicara).  Selain membasahkan kerongkongan yang kering, cara ini juga dapat membantu pembicara untuk berhenti sejenak. Minum air ini dapat juga berfungsi sebagai trik dengan cara meminumnya setelah menyampaikan sesuatu hal yang bersifat dramatik, tak terduga atau menegangkan.

(8)    Menimbulkan suasana komunikatif pada saat berbicara dengan memanfaatkan tip-tip berikut:

*        Merebut perhatian pendengar pada awal pembicaraan. Karena itu, kalimat pertama digunakan untuk mengawali pembicaraan menjadi sangat penting. Contoh: Jika berbicara tentang inflasi maka menggunakan kalimat pertama seperti “Inflasi mengganggu pertumbuhan ekonomi. Jadi ……… dst.

*        Membuat struktur pembicaraan dengan efektif, mencakup pendahuluan, kerangka pembicaraan, dan penutup:  Kerangka bicara disusun secara sistematis, logis, dan efektif dan dibuat dalam pointers pembicaraan. Jika belum terbiasa berbicara dengan hanya menggunakan pointers, gunakan kertas-kertas kecil (segi empat) sebagai tempat menulis poin-poin yang dianggap penting untuk disampaikan secara lengkap. Potongan kertas ini akan mengurangi kesibukan membuka halaman kertas yang lebih besar, yang biasanya akan mengganggu konsentrasi pendengar dan juga pembicara sendiri. Jika tersedia sarana OHP (Overhead Projector) dapat menggunakan plastik transparansi untuk menuliskan pointers pembicaraan. Jangan semuanya, nanti terkesan seperti pindahan naskah bicara. Hal yang sama juga berlaku dalam penayangan power points melalui LCD.

*        Menggunakan rumus  ENAM POIN, 45 MENIT.  Artinya, rentang perhatian kebanyakan orang [pendengar] terbatas sekitar 45 menit dan hanya mampu menyerap 6 sampai 7 poin selama waktu itu. Jadi jangan mencoba meliput terlalu banyak poin dalam satu kali berbicara

*        Menggunakan HUMOR, ANEKDOT atau ILUSTRASI karena akan lebih mudah diingat. Lebih baik menggunakan humor, anekdot atau ilustrasi berdasarkan pengalaman sendiri atau jika terpaksa gunakan pengalaman orang lain atau buat ilustrasi hipotetis. Alasannya, jika anekdot atau ilustrasi ini diingat oleh pendengar maka mereka pun akan ingat pesan yang disampaikan. Contoh: Untuk menggambarkan bahwa kaum perempuan (yang juga bekerja di luar rumah selain di dalam rumah) maka menggunakan ungkapan ….. Perempuan bekerja dari MATAHARI terbit sampai MATABAPAK (kata bapak mengganti kata hari) … ternyata membuat banyak orang lebih mudah mengingat pesan yang disampaikan. Atau dapat juga …. perempuan di Indonesia bekerja seperti WONDER WOMEN (yang dapat jumpalitan dan gagah perkasa, semua serba bisa). Tapi ilustrasi ini terbatas pada orang yang pernah menonton film seri Wonder Women di TV. {Catatan: Untuk menghindari kesan sebagai pelawak, gunakan humor, anekdot, atau ilustrasi yang cocok dengan bahan pembicaraan}.

*Libatkan pendengar dengan mengajukan pertanyaan. Gunakan benda nyata yang dapat dianalisis oleh pendengar atau memberi kesempatan mereka untuk bertanya.

(9)         Sama halnya dengan kalimat pembuka, maka kalimat penutup juga sangat menentukan terserapnya pebicaraan dalam memori pendengar. Karena itu, selain dipersiapkan dengan cukup mantap, maka penting sekali menggunakan kata-kata efektif, dinamis, dan mengundang minat ingin tahu (penasaran) dari pendengar.

(10)     Gunakan bahasa tangan untuk mengilustrasikan poin-poin verbal yang disampaikan (akan dibahas lebih rinci pada poin keterampilan komunikasi non-ujaran).

   Trik-trik pada poin 1 sampai 10 tampaknya mudah untuk diucapkan dan dituliskan,  tapi tidak mudah untuk dilakukan. Perlu latihan!

Iklan