Berpikir kritiskah kita ketika melihat dan mengalami harga pangan yang terus meningkat? Harga minyak bumi meningkat? Daya beli masyarakat menurun? Hampir di setiap daerah mengalami bencana banjir? Tindakan anarkis dimana-mana? Ada wakil rakyat yang terkena kasus suap,dsb? Dengan kata lain apakah kita peka dan berespon terhadap fenomena-fenomena tersebut?. Saya percaya semua orang  pernah dan malah sedang berpikir kritis. Yang membedakan cuma derajat kekritisannya. Mulai mengkritisi masalah yang ringan sampai yang berat -berat. Mulai dengan daya kritis santai sampai daya kritis sangat serius.

Berpikir kritis  dipandang sebagai salah satu pendekatan kecerdasan intelektual dan emosional yang tertua dan paling banyak dikenal di dunia ini. Ryder (1986) dalam Chua Yan Piaw; Creative and Critical Thinking Styles, 2004) menguraikan signifikansi dari berpikir kritis dalam kehidupan keseharian manusia. Dia  menyatakan bahwa hanya individu-individu  cerdaslah yang mampu berpikir kritis secara bersinambung.Beyer (1995) dalam Chua Yan Piaw berpendapat berpikir kritis berarti membuat pendapat atau perimbangan yang beralasan. Baik dalam ruang lingkup hidup keseharian yang ringan sampai hal yang rumit dalam bentuk temuan penelitian. Dengan kata lain ada respon terhadap keabsahan suatu informasi fenomena, pernyataan, gagasan baru, pendapat, hasil penelitian, dsb.

 

Karena merupakan proses yang menggunakan kecerdasan intelektual maka berpikir kritis idealnya dilakukan dengan pendekatan konseptualisasi, analisis, sintesis, dan evaluasi informasi yang dikumpulkan melalui observasi, pengalaman, refleksi, penalaran, dan komunikasi. Dalam hal ini ditekankan, mengkritisi sesuatu seharusnya tidak sembarangan. Agar diterima secara masuk akal, berpikir kritis sebaiknya berbasis data dan informasi yang andal dan absah, dan alasan kuat. Dapat juga menggunakan pendekatan teoretis dan empiris; baik deduktif maupun induktif. Hal ini penting karena masih banyak individu atau yang mengatasnamakan institusi, dan bahkan pejabat berucap macam-macam tanpa didukung data-informasi dan alasan yang bisa diterima. Yang digunakan hanyalah akal-akalan saja bahkan perasaan semata  Sebutan populernya adalah asbun atau asal bunyi. Telah terjadi proses berpikir yang bias. Tidak jarang hal itu mengakibatkan terjadinya kontra kritisi yang berujung pada kontraproduktif. Masyarakat tidak disadari  tergiring ke arah kebingungan kolektif.

 

 

 

Iklan