Banyak model yang diterapkan dalam proses pelatihan dan pengembangan SDM karyawan. Diantaranya adalah permainan peran dan pemodelan perilaku. Permainan peran merupakan sebuah cara yang menempatkan para peserta pelatihan dengan anggapan berada pada posisi indentitas berbeda dengan kondisi sebenarnya. Sebagai contoh, peserta laki-laki dapat diasumsikan sebagai  wanita penyelia dan seorang wanita penyelia bermain peran sebagai pekerja pria. Kemudian keduanya diberikan semacam situasi pekerjaan tipikal dan meminta mereka merespon karena mengharapkan pekerjaan lain yang dikerjakan. Apa hasilnya? Para peserta mungkin melebih-lebihkan perilaku mereka masing-masing. Idealnya, mereka seharusnya memahami diri mereka, seperti halnya yang lain memahami mereka.

 

Pengalaman dapat menciptakan empati yang semakin besar dan toleransi dari perbedaan-perbedaan individual. Oleh karena itu, pelatihan ini sangat cocok untuk menciptakan lingkungan kerja kondusif dalam situasi para pekerja yang identitasnya beragam. Teknik ini digunakan untuk mengubah sikap, misalnya memperbaiki pemahaman tentang budaya setiap rekan kerja. Hal itu juga mampu mengembangkan keterampilan antarpersonal. Meskipun adanya partisipasi dan umpan balik, pencantuman prinsip-prinsip pelatihan lain bergantung pada imajinasi atau partisipasi simpatik.

 

Sangat dekat dengan permainan peran dan magang adalah pemodelan perilaku yang digambarkan sebagai berikut. Pemodelan adalah sebuah prose psikologis fundamental yang merupakan pola baru perilaku yang dapat diperoleh, dan menciptakan pola yang dapat diubah. Karakteristik pokok dari pemodelan adalah bahwa pembelajaran mengambil alih tidak melalui pengalaman aktual, tetapi melalui observasi atau imajinasi dari pengalaman orang lain. Pemodelan merupakan proses yang beragam yang berarti terjadinya pembagian pengalaman orang lain melalui imajinasi atau partisipasi simpatik.

 

Apakah pemodelan perilaku dinyatakan sebagai kesepadanan atau peniruan atau belajar secara observasi atau imitasi, semua istilah itu mengandung arti bahwa sebuah perilaku dipelajari dan dimodifikasi melalui pengamatan terhadap beberapa individu. Para karyawan dapat memperlajari perilaku baru melalui pemodelan dengan mengamati perilaku baru dan kemudian menirunya. Kreasi baru dari perilaku mungkin direkam ke dalam video sehingga pelatih dan peserta pelatihan dapat menelaah dan memberi kritiknya. Ketika memperhatikan perilaku ideal, peserta juga menemukan konsekuensi negatif yang menimpa seseorang yang tidak menggunakannya, seperti yang direkomendasikan. Dengan mangamati konsekuensi positif dan negatif, karyawan menerima penguatan seolah mengalami sendiri yang medorong ke arah perilaku yang benar. Bidang di mana pendekatan ini pernah dilakukan secara berhasil adalah dalam mengajar penyelia bagaimana mendisiplinkan karyawan.

 

 

Iklan