Ada etika ada pula estetika. Keduanya punya sisi perbedaan tipis. Etika bicara tentang moral seseorang; apakah berperilaku salah atau benar; apakah baik atau buruk. Sementara estetika bicara tentang keindahan akan sesuatu. Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas,  disebutkan bahwa Estetika secara sederhana adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni. Kalau begitu apakah istilah estetika bisa pas untuk digunakan dalam fenomena bisnis?

Saya pikir estetika bisa digunakan dalam konteks bisnis. Misalnya saja ketika kalangan arsitek hendak membuat bangunan perkantoran bertingkat pasti dikaitkan dengan aspek-aspek untuk peruntukan apa; dan bagaimana dengan situasi lingkungan, apakah mengganggu keindahan atau malah merusak lingkungan. Yang pasti estetika suatu rancang bangun seharusnya didasarkan pada strategi bisnis perusahaan dan pertimbangan lingkungan.Masih tergambar dalam  ingatan kita ketika sebagian masyarakat menolak (April tahun lalu) keberadaan landmark di Perempatan Gumawang, Wiradesa, Pekalongan yang dinilai  berbahaya dan mengurangi estetika penataan ruang. Apalagi, di sekitar tempat itu akan dibangun objek wisata baru yaitu kampung batik.

Contoh lainnya yang dinilai relevan dengan penggunaan istilah estetika adalah dalam penerapan gaya kepemimpinan. Disamping menggunakan etika dan etiket atau tatacara pergaulan maka ada estetika. Disitu ada proses komunikasi antara pemimpin atau manajer dengan para sub-ordinasinya. Ketika berinteraksi maka akan betapa indahnya kalau manajer memperlakukan sub-ordinasinya dengan cara-cara manusiawi. Betapa bahagianya seorang karyawan menerima tegur sapa yang akrab dari atasannya; betapa indahnya suasana dialog ketika seorang pemimpin mau mendengar dan merespon positif pendapat subordinasinya; dan betapa agungnya seorang pemimpin mau mengakui kesalahannya di hadapan rekan dan sub-ordinasinya.

Begitu juga ketika dunia bisnis semakin berkembang global maka pergaulan bisnis internasional tak mungkin dihindari. Interaksi multibudaya internasional sudah merupakan keharusan.Ketika itu terjadi maka muncullah beragam budaya bahasa, budaya busana, budaya cara bicara, budaya makan, budaya pengambilan keputusan dsb. Misalnya ketika negosiasi atau resepsi makan malam maka tampaklah ragam keindahan dalam berucap dan berbusana dengan bahasa tubuh warna warni.Semuanya diupayakan serba indah dan penuh pesona agar negosiasi dapat berjalan mulus.

Ketika perusahaan ingin menggapai keunggulan kompetetif maka salah satu unsur yang ingin dicapainya adalah pengembangan loyalitas konsumen. Untuk itu perusahaan harus mampu memberi produk bermutu dan layanan yang terbaik kepada konsumen. Secara pengembangan nilai lalu dibangun suatu jembatan emosional antara perusahaan dengan konsumen. Bentuknya adalah tanggung jawab mutu dengan estetika tinggi, pelayanan ramah dan tepat waktu, dan konsumen diperlakukan secara aman dan nyaman secara berkelanjutan. Pada gilirannya konsumen akan selalu merindukan untuk kembali membeli produk perusahaan tersebut.

Dari uraian singkat di atas, antara etika (ahlak, moral), etiket (tatacara pergaulan),dan estetika (keindahan) tak dapat dipisah-pisahkan. Ketiganya menyatu. Dengandemikian ketika perusahaan dalam menyusun strategi bisnisnya maka harus mulai ada kesatuan pemahaman tentang sisi visi, misi, tujuan, dan strateginya. Setiap strategi untuk memenangkan persaingan harus tergambarkan pada kesatuan antara gagasan (moral dan tanggung jawab), bentuknya (estetika), dan pendekatannya (tekniknya). 

Iklan