Bagaimana harga diri anak terbentuk? Sumbernya dari mana saja? Menurut Ranjit Singh (Enhancing Personal Quality (2004) harga diri dibentuk oleh faktor-faktor internal dan eksternal seseorang. Faktor-faktor internal adalah faktor yang diciptakan dan dikembangkan individu bersangkutan seperti keyakinan diri dan kecakapan, aspirasi, dan atau prestasi diri. Sementara faktor eksternal merupakan faktor-faktor lingkungan seperti pengaruh orangtua dan umpan balik guru, teman-teman dan kolega. Faktor-faktor eksternal memainkan peran penting dalam membentuk harga diri anggota keluarga selama masa kanak-kanan khususnya selama usia tiga sampai lima tahun. Dalam tulisan ini uraian difokuskan pada peran keluarga.

Menurut para psikolog, pengalaman awal selama masa kanak-kanak dan usia remaja seseorang memiliki pengaruh penting dalam pengembangan harga diri. Keluarga sebagai lembaga utama berperan dalam proses sosialisasi. Keluarga  membentuk kepribadian pada sang anak untuk memahami mana ha-hal yang bisa diterima atau tidak diterima, dicintai atau tidak dicintai, dan mana yang patut dan mana yang tidak dilakukan. Disini perilaku orangtua sangat sentral. Seperti Stephanie Martson dalam Singh, katakan, apa yang diperbuat orangtua akan merefleksi balik pada anak-anaknya dalam bentuk citra diri yang lambat laun akan memengaruhi dimensi kehidupan sang anak. Para peneliti banyak membuktikan bahwa pola orangtua membesarkan anggota keluarga (anak) akan mempengaruhi harga diri sang anaknya. Orangtua dengan harga diri tinggi cenderung membentuk sang anak yang berharga diri tinggi sebaliknya kalau harga dirinya rendah.

Juga ditemukan bahwa para ibu yang senang menghukum, sifat bermusuhan, dan lekas marah pada anak perempuannya cenderung menyebabkan sang anak tersebut berkepribadian sedih, dongkol atau benci, murung, dan bermusuhan. Sebaliknya kalau sang ibu memiliki emosi stabil cenderung mampu membesarkan sang anak perempuannya dengan kepribadian menyenangkan, ramah, dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan baik.

Otangtua yang otoriter dan permisiv cenderung membentuk harga diri anak-anaknya menjadi rendah. Sementara itu, orangtua yang memberi perintah dengan jelas dan proporsional cenderung membentuk harga diri sang anak menjadi tinggi. Berikut beberapa sisi perilaku orangtua yang dapat membentuk harga diri posiutif pada anak-anaknya.

¨     Mutu perilaku dan performa tinggi dari orangtua.

¨     Menerapkan batas-batas yang jelas  mana perbuatan atau perilaku yang boleh dan mana yang tidak.

¨     Bimbingan perilaku dan umpan balik performa orangtua.

¨     Memperlakukan anak dengan respek dan kepercayaan diri.

¨     Memberi perhatian dan terlibat dalam kegiatan akademik dan sosial sang anak.

¨     Pendekatan yang tidak memaksa bakal membentuk disiplin diri sang anak.

¨     Memperlakukan anak dengan demokratis seperti menaruh perhatian besar pada pendapat anak dalam pengambilan keputusan tentang waktu belajar,santai,bekerja membantu pekerjaan rumahtangga, waktu tidur, dan renca keluarga.  

   

    Uraian umum di atas menunjukkan bahwa pola pembentukan harga diri anak sepertinya sudah standar.Menurut saya dengan kondisi masyarakat yang  begitu majemuknya bisa jadi terdapat pendekatan-pendekatan yang khas sesuai dengan kulturnya. Misalnya  apakah pendekatan yang dilakukan di keluarga  dari kalangan militer dan sipil akan berbeda. Begitu pula apakah terdapat perbedaan pula pada keluarga bangsawan dan keluarga dari masyarakat biasa. Dan pada tataran global bisa jadi terdapat perbedaan pendekatan antara masyarakat bangsa barat dan bangsa timur.