Anggaplah anda memiliki suatu proyek penelitian tentang bisnis tertentu. Ketika anda selesai melakukannya ternyata sebagian  hasilnya tidak memuaskan alias gagal. Tentu saja hampir semua tim peniliti merasa kecewa. Perlukah bersikap seperti itu? Secara manusia wajar-wajar saja bersedih atau kecewa. Namun sepatutnya pelaksanaan proyek penelitian yang buruk tidak harus selalu dikategorikan gagal total. Bisa jadi ada hikmahnya.Yakni semakin tahu bahwa kegagalan terjadi karena anda tidak cakap dalam merumuskan state of the art suatu penelitian. Tidak tajam dalam merumuskan masalah bisnis yang faktual. Apa sebenarnya yang ingin dituju dari penelitian itu  terlalu umum. Juga kerangka pikirnya tidak komprehensif. Apalagi metodologi penelitiannya sudah  ketinggalan zaman.

Pada konteks egonomics, kadang-kadang kegagalan suatu pekerjaan karena terlalu ingin menonjolkan popularitas diri, misalnya dari pimpinan proyek. Kalau begitu, setiap pekerjaan akan artifisial sifatnya. Perilaku seperti itu mendorong seseorang untuk tidak menggunakan pikirannya secara rasional dalam menghitung biaya, waktu yang dikeluarkan, dan orang-orang berbakat. Yang terpenting proyek itu sudah dilaksanakan. Kalaupun sebagian gagal toh masih ada sebagian yang berhasil, itulah persepsi pimpinan yang egosentris. Sementara  meraih kesenangan diri pribadi justru menimbulkan ketidak-senangan sebagian besar orang. Mengapa demikian? Karena suatu pekerjaan yang tanpa pengakuan pada orang-orang di sekelilingnya akan gagal total. Sebaliknya ada banyak perusahaan yang berhasil yang selalu membuka kesempatan pada setiap karyawan atau manajernya berpikiran secara bebas. Mereka merasa dihargai pihak manajamen puncak.

Karena itu mencari kesenangan pribadi sesaat dalam suatu pekerjaan  seharusnya ditinggalkan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana menciptakan kepentingan yang sama. Untuk itu mengetahui dan memahami perilaku anggota tim kerja menjadi keharusan. Tujuannya agar semua tim memiliki misi dan tanggung jawab yang sama tentang pekerjaan yakni keberhasilan optimum. Setiap orang didorong untuk berbagi gagasan secara bebas. Disilakan untuk berbicara apa adanya tanpa intimidasi dari siapapun. Apapun  proses dan hasilnya, mereka    semua seharusnya memiliki perasaan yang sama. Gembira maupun kecewa.

Inti pokok dari uraian di atas adalah setiap orang perlu mengetahui bahwa apa yang dilakukannya akan bermanfaat atau bernilai. Tiap orang butuh pengakuan dan kehormatan dimana pun dia berada. Ketika berbicara, ketika bernyanyi, dan bahkan ketika berdiam diri pasti setiap orang di sekelilingnya bereaksi. Ada yang diam saja, ada yang senyum, ada yang kagum, tapi ada juga yang sinis.Begitu juga ketika sedang bekerja. Reaksi-reaksi ini tentu saja, terutama untuk pimpinan, menolongnya untuk mempelajari keragaman perilaku seseorang. Mana reaksi karyawan yang berharga dan mana yang murahan. Mana yang bisa diterima dan mana yang ditolak. Mana yang bisa membangun motivasi dan mana yang melemahkan semangat kerja. Dengan demikian ego seorang pimpinan dalam menghadapi subordinasinya seharusnya akan diterapkan secara proporsional.Dengan kata lain sang pimpinan harus juga punya motivasi membuat lingkungan kerja bergairah atau menyenangkan.

Iklan