Topik di atas bisa dikatakan juga seperti ini:”saya tak akan mampu memimpin jika saya bukan orang top”. Saya bukanlah keturunan si ini dan si itu yang kaya lagi berdarah biru. Begitu juga tak mungkin lah saya menjadi pemimpin yang baik karena tidak bertitel sarjana,doktor, dan guru besar. Dengan kata lain potensi kepemimpinan seseorang selalu berkorelasi dengan posisi sosial atau katakanlah gelar kesarjanaan yang dimilikinya. Benarkah demikian? Tidak juga. Itu cuma mitos belaka. Siapapun bisa menjadi pemimpin tanpa embel-embel label. Sebab,ukuran kepemimpinan yang utama adalah punya pengaruh. Tidak lebih-tidak kurang.

Pengalaman saya berorganisasi baik di kampus maupun di luar kampus membuktikan hal itu.Tidak semua mereka yang bertitel formal kesarjanaan dan posisi strategis otomatis mampu memimpin organisasi. Yang terjadi, dalam kesehariannya memimpin dengan “tangan besi”. Sangat memaksakan kehendaknya; tanpa kompromi. Komunikasi timbal balik cenderung terhambat. Dia  membangun kepemimpinannya hanya dengan  mengandalkan otoritasnya. Dan anehnya pemimpin seperti itu sering gelisah kalau ada ide dari subordinasi yang sifatnya bertentangan dengannya.Sebaliknya ada yang tidak bertitel atau kalaupun bertitel relatif lebih rendah namun mampu memimpin dengan baik. Pemimpin seperti ini dicirikan oleh  potensi yang kuat tentang kepribadian, pengalaman, dan kecerdasannya dalam mengkoordinasi orang.

John C.Maxwell (The 360 degree Leader, 2005) menguraikan tingkatan dinamika pengembangan kepemimpinan. Penjelasannya dimulai dari tingkatan paling bawah. Disini pemimpin berperan atau berpengaruh hanya dari posisinya. Dia memiliki hak-hak tertentu untuk memimpin. Kalau seorang pemimpin  mengarahkan orang hanya karena posisinya ini berarti dia tidak meningkatkan kemampuan pengaruhnya. Dengan kata lain orang lain akan mengikutinya karena mereka memang harus berbuat begitu. Semakin rendah posisi pekerjaan sang pemimpin semakin rendah otoritas kekuasaannya. Karena itu ada baiknya seorang pemimpin dengan posisi dan ditambah dengan titelnya dapat meningkatkan pengaruhnya. Atau bisa meningkat ke tahap dinamika berikutnya.

Pada tahap kedua, seorang pemimpin mulai mengarahkan posisinya dengan cara membangun hubungan dengan anggota-anggotanya secara lebih efektif. Dia memperlakukan para anggotanya dengan rasa hormat dan bermartabat. Begitu pula dia sangat peduli dengan mereka bukan karena alasan posisinya sebagai sang pemimpin. Dengan kepeduliannya, para anggota  lambat laun mulai  mempercayai dirinya sebagai pemimpin. Mereka terbuka untuk diarahkan oleh sang pemimpin.Dengan kata lain para anggota mengikuti pemimpin karena mereka merasa harus berbuat seperti itu.

Tahap dinamika berikutnya disebut tingkat ”produksi”. Pada tahap ini pengakuan para anggota kepada sang pemimpin semakin meningkat. Pasalnya karena dia mampu berprestasi di organisasinya. Jadi kalau para anggota mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik mereka mengatakan berkat arahan  sang pemimpin yang bijak. Lalu kepercayaan mereka kepada pemimpin semakin besar. Disini para anggota mengikuti sang pemimpin karena mereka mengatakan bahwa sang pemimpin telah berbuat banyak buat organisasi.

Pada tahap keempat dari kepemimpinan seseorang adalah fokus pada pengembangan anggota. Fase ini disebut pula pengembangan anggota untuk menjadi pemimpin. Agendanya berupa menuangkan potensi kepemimpinan sang pemimpin pada semua individu anggota dengan cara membimbing, membantu mengembangkan ketrampilan, dan mempertajam kemampuan kememimpinan. Jadi semacam proses reproduksi kepemimpinan. Dia akan meningkatkan mutu anggota, nilai tambah, dan membuat mereka lebih bernilai. Pada tingkatan ini, para anggota mengikuti sang pemimpin dengan alasan pemimpin  telah banyak berbuat untuk mereka.

Tahap terakhir dari dinamika kepemimpinan adalah tingkat pengakuan pada kepribadian dan prestasi pemimpin. Semacam pencapaian reputasi diri pemimpin. Penilaiannya dilakukan sendiri oleh para anggota. Mereka menilai sang pemimpin telah mengarahkannya dengan sangat baik mulai dari tahap awal untuk periode waktu yang lama. Sang pemimpin dinilai berhasil dengan baik dalam melalui setiap tahapan kepemimpinannya. 

Iklan