Saya percaya, hampir setiap individu, siapapun dia, mengetahui apa artinya gosip.Bahkan mungkin pernah melakukannya. Malahan  bisa jadi gosip sudah menjadi hobinya. Tiada hari tanpa bergosip ria. Ada gosip tentang kekayaan seseorang, ada gosip tentang perilaku suami atau isteri orang lain, ada gosip tentang politik, ada gosip tentang perilaku anak keluarga tertentu, ada gosip tentang bakal kejatuhan seorang menteri, dan masih banyak lainnya. Gosip yang dikategorikan sebagai informasi informal itu pun bisa terjadi dalam dunia perusahaan. Misalnya gosip yang menyangkut lemahnya kepemimpinan manajer, jeleknya perilaku beberapa karyawan, lemahnya mata rantai penjualan, rendahnya kapasitas manufaktur, dan lemahnya hubungan atasan-bawahan.

Contoh gosip lainnya, seorang karyawan yang tidak puas dengan pelatihan yang diikutinya akan mengeluh pada teman-teman lainnya, betapa buruknya mutu sang instruktur. Seorang karyawan yang merasa teraniaya karena karirnya tidak jelas akan berucap betapa tidak adilnya manajer SDM pada dirinya. Tampak bahwa sifat gosip dekat dengan dorongan perasaan, opini, dan fiksi seseorang dalam berespon tentang fenomena tertentu. Bisa jadi pula sangat bersifat sensitif. Dan kalau gosip itu beredar semakin meluas tanpa klarifikasi akan menimbulkan fitnah. Jadi  yang namanya gosip bisa terjadi kapan, dimana saja, dan oleh siapa saja yang dapat berakibat fatal bagi “kerukunan” di kalangan karyawan dan pimpinan. Lalu bagaimana menyikapi gosip seperti itu?

Bicara gosip berarti bicara tentang perasaan seseorang. Terkadang para manajer berpendapat bahwa tak ada tempat bagi suatu perasaan dalam organisasi. Semua harus berdasarkan fakta dan obyektif. Padahal  tak bisa dibantah setiap organisasi memiliki elemen manusia yang pasti memiliki perasaan. Tak ada manusia yang tak memiliki perasaan. Itu merupakan hukum alam. Bahkan perasaan karyawan sebagai potensi  bisa berguna bagi perusahaan dan bagi dirinya sendiri. Misalnya intuisi seseorang dalam bentuk firasat dan perasaan terdalam dapat menginformasikan kita bahwa dalam menghadapi prospek bisnis ke depan  yang semakin kompleks, sangat dibutuhkan kehati-hatian. Begitu pula tentang emosi seseorang. Apakah emosi dalam bentuk rasa bahagia, sedih, marah, motivasi,dan kecewa akan merupakan informasi yang berguna bagi perusahaan dalam melaksanakan program pengembangan SDM.

Untuk menghadapi suatu perasaan yang berkembang menjadi gosip maka para manajer perlu menganalisisnya. Harus dibuktikan kebenarannya dengan fakta akurat. Dengan kata lain, menghindari sikap apriori bahwa semua informasi yang bernada gosip harus diabaikan. Mengapa? Karena setiap orang yang bergosip selalu memiliki asumsi-asumsi berbeda. Dan biasanya tanpa saling melakukan klarifikasi. Untuk menghindari akibat negatif yang mungkin muncul dari gosip maka manajer perlu mendalami informasi berikut asumsinya. Siapa tahu masih ada asumsi-asumsi yang terkubur atau tidak muncul ke permukaan.

Dari asumsi-asumsi ini maka para manajer sejak dini dapat mengklasifikasikan atau pembuktian mana informasi berbentuk gosip yang tergolong fakta didukung data dan informasi akurat, fantasi ataukah cuma opini, dongeng ataukah gosip atau rumor, dan  perasaan saja dalam bentuk intuisi,emosi, dan ego. Setelah itu maka para manajer dapat melakukan pendekatan-pendekatan individual dan atau kelompok karyawan. Dalam hal ini klarifikasi dari dan kepada karyawan sangatlah bermanfaat dalam memperkecil terjadinya perilaku gosip. Dalam jangka panjang pihak perusahaan harus melakukan sosialisasi dan peningkatan hubungan vertikal dan horisontal dengan dan diantara karyawan secara intensif. Semuanya itu untuk proses pembelajaran betapa pentingnya menyaring suatu informasi dan peningkatan kesadaran dalam bersikap kritis terhadap gosip.

Iklan