Begitu banyaknya bencana alam terjadi di tanah air. Tidak ada data pasti berapa warga  yang meninggal dan keluarga yang kehilangan harta bendanya. Walaupun dibanding dengan skala makro relatif kecil namun bagi daerah bencana  jumlah angkatan kerja yang menganggur diperkirakan terbilang relatif besar. Fenomena di tingkat mikro secara signifikan dicirikan oleh makin melemahnya pendapatan riil masyarakat. Selain itu rasio kebergantungan anggota keluarga yang tidak produktif terhadap yang produktif semakin tinggi. Dengan demikian, beban keluarga semakin besar.

Perilaku lain pada ekonomi keluarga yang signifikan akan tampak pada sisi konsumsi. Tidak kecil kemungkinannya bahwa banyak keluarga yang akan mengubah pola konsumsi apakah dalam segi jumlah, kualitas maupun frekuensinya. Diversifikasi menu secara terpaksa akan terjadi, terutama pada keluarga marjinal. Substitusi beras ke bahan makanan seperti umbi-umbian dan jagung dan bahkan daging kelapa mungkin saja akan terjadi. Khususnya di keluarga  marjinal, perubahan juga terjadi pada pola distribusi konsumsi pangan keluarga. Distribusi pangan diantara keluarga, baik dalam hal jumlah maupun kualitas jenis pangan akan semakin seragam dengan lauk pauk sederhana, bahkan mungkin tanpa sayur sama sekali. Akan terjadi pula proses trade off dimana porsi pengeluaran keluarga untuk pangan akan semakin besar dibanding untuk pendidikan anggota keluarga, rekreasi dan kesehatan. Kalau porsi tersebut semakin membengkak, ciri kemakmuran yang semakin menurun sulit dicegah. Yang jelas standar gizi keluarga apakah dilihat dari kandungan kalori maupun protein sebagian besar masyarakat akan mengalami penurunan.

Di sisi lain hanya mengandalkan dari bantuan saja tidaklah cukup. Yang paling krusial kalau tidak segera diatasi maka jumlah mereka yang bergantung pada yang produktif dan pada pemerintah akan semakin besar. Dengan kata lain akan terjadi beban sosial yang semakin berat. Belum lagi ditambah dengan jumlah penganggur yang ada sebelum bencana terjadi. Karena itu perlu dipikirkan bagaimana mencari jalan keluar untuk mengurangi penderitaan psikologis, sosial dan ekonomi rakyat yang kehilangan segalanya. Semakin besar kekurangan pekerjaan semakin besar pula penderitaan yang akan dialaminya di masa datang.

Karena itu dalam jangka  pendek ini, katakanlah empat-lima bulan mereka perlu diberikan kesibukan yang mendatangkan nilai tambah. Salah satunya adalah menyediakan program padat karya bagi sebagian besar penduduknya. Dengan perkataan lain, bagaimana pemerintah mampu secepatnya melaksanakan program tersebut untuk golongan masyarakat yang rentan terhadap kondisi ekonomi yang parah ini. Jika tidak segera disolusikan maka kemungkinan besar akan teriadi gejolak-gejolak sosial politik yang parah. Sedang dalam jangka panjang bagaimana memperkecil kesenjangan kemakmuran antara si kaya dan si miskin.

          Program padat karya adalah program terapi yang sifatnya jangka pendek dan lebih pada upaya mengatasi masalah sosial ekonomi yang mendesak. Memang program ini hanya bersifat sementara. Namun sebagai jaring pengaman sosial, program ini sangat efektif untuk mengatasi tekanan ekonomi dan psikologi dari khalayak yang sedang menderita. Mereka termasuk yang selama ini tergolong penganggur dapat dilibatkan pula untuk membangun kondisi infrastruktur dan perumahan yang hancur luluh. Mereka dapat bekerja dalam tahap rekonstruksi dan pemulihan pascabencana alam. Perbaikan sanitasi, jalan, irigasi, perumahan rakyat dan gedung-gedung perkantoran dan pendidikan serta rumah sakit yang rusak serta penataan sistem administrasi yang tidak berfungsi optimal adalah beberapa program yang dapat disediakan untuk mereka. Termasuk di dalamnya adalah peluang kerja bagi para calon guru untuk mengisi kekosongan tenaga pengajar di banyak sekolah. Dengan upah minimum dan sejauh maungkin disediakan fasilitas perumahan, mereka diharapkan mampu bertahan hidup walaupun masih serba terbatas.

          Agar pelaksanaannya berhasil dengan baik, program ini, utamanya pekerjaan fisik, sebaiknya tidak membutuhkan persyaratan yang  begitu kaku khususnya tentang syarat pendidikan dan pengalaman kerja. Yang penting dibutuhkan adalah kesediaan bekerja dan kesehatan dari khalayak.  Namun harus jelas apa bentuk programnya, untuk berapa lama, berapa jam perhari bekerja, dan berapa upah perhari. Untuk itu pihak pemerintah harus mendata semua aspek yang berkait dengan program ini. Bahkan pihak swasta dapat bekerja sama dengan pemerintah  menginformasikan peluang-peluang kerja yang ada.

          Karena tergolong sebagai bencana daerah maka pemerintah daerah dengan semangat otonominya harus proaktif dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan program padat karya ini. Pemerintah daerah harus segera menyediakan dana dan fasilitas bahkan sumberdaya manusia. Namun pihak pemerintah pusat pun perlu terlibat terutama dalam membantu mengkoordinasi program dan sebagaian dana dari pendapatan asli daerah di daerahnya masing-masing. Program padat karya dapat dintegrasikan sebagai bagian dari program pengentasan kemiskinan dan daerah tertinggal. Hal ini penting karena pengelola kedua program tersebut sudah memiliki pengalaman. Kalau toh para pengelola prgram lokal juga mengalami bencana, sebagai penggantinya dapat didatangkan dari daerah propinsi terdekat atau dari pusat. Secara keseluruhan program ini hendaknya dipersiapkan secara terencana.

Iklan