Sudah menjadi pendapat umum di kalangan skolar, mempelajari dan mengajarkan filsafat ilmu khususnya ilmu-ilmu sosial bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Sering muncul anggapan filsafat ilmu itu sesuatu yang sangat abstrak.Tidak mudah dicerna oleh akal pikiran. Karena itu tidak jarang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan; (1) apa sebenarnya tujuan dan manfaat dari mempelajari filsafat ilmu?, (2) sejauh mana ada kaitannya dengan penelaahan suatu fenomena sosial tertentu?, (3) apa kaitannya dengan metodologi penelitian?, dan (4) secara teknis bagaimana sebaiknya pembelajaran filsafat ilmu-ilmu dapat dilakukan dengan menarik, dan  dapat  menstimulus  mahasiswa  untuk lebih kreatif dan inovatif sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah?

          Dalam pembelajaran filsafat ilmu dalam ilmu-ilmu sosial maka beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:

(1)     Perlu penelaahan peran filsafat ilmu dalam memberikan spirit perkembangan dan kemajuan ilmu-ilmu sosial sekaligus kandungan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya baik pada tataran ontologi, epistemologi maupun         aksiologi. Disamping itu perlu dikaji kaitan ilmu-ilmu beragam dimensi dan fenomena sosial dalam suatu realitas yang komprehensif.

(2)     Meningkatkan pemahaman para mahasiswa tentang hakikat manusia sebagai individu dan anggota sistem sosial dan tentunya sebagai mahluk Allah pencipta alam semesta.Mengembangkan kesadaran para mahasiswa atau siapa saja yang menuntut ilmu (termasuk dosen) bahwa ilmu yang dimilikinya masih jauh dari cukup. Bagaimana menyadarkan mereka bahwa ilmu itu tidak ada batasnya sementara kemampuan manusia terbatas. Dan ini sangat penting untuk menumbuhkan sifat rendah hati dimana melihat sesuatu itu jangan hanya dari kaca mata ilmunya  saja. Masih banyak kaca mata lain dalam menelaah sesuatu.

(3)     Dengan memfokuskan diri pada pertanyaan- pertanyaan dasar tersebut, filsafat ilmu  tidak lagi bersifat deskriptif sebagaimana diusahakan ilmu-ilmu empiris, melainkan bersifat normatif kritis. Perhatian utama setiap filsafat ilmu  adalah menjelaskan norma-norma dasar dari bangunan ilmu . Ia tidak hanya menjelaskan ilmu  apa adanya melainkan secara kritis merefleksikan ilmu  itu, sehingga pertanyaan “bagaimana seharusnya ilmu  itu” dapat dijawab dengan baik. Jika etika ilmu  mengarahkan perhatiannya pada masalah kriteria kebaikan ilmu  bagi hidup manusia maka epistemologi ilmu  akan mengarahkan dirinya pada masalah kriteria kebenaran dan kebebasan ilmu.

(4)     Pokok-pokok pembelajaran filsafat ilmu yang terkait dengan ilmu sosial perlu menelaah sejarah perkembangan ilmu secara keseluruhan dan  khususnya tentang ilmu-ilmu sosial; Selain itu perlu Menjelaskan hakekat dan sumber pengetahuan dan kriteria kebenaran dalam menelaah gejala-gejala sosial; Juga perlu membahas beragam aspek masalah yang menyangkut obyek, metode, dan tujuan ilmu-ilmu sosial dan perbedaannya dengan ilmu-ilmu alam;

(5)     Agar para penuntut ilmu khususnya mahasiswa mampu lebih mengerti dalam memahami filsafat ilmu-ilmu sosial maka hendaknya dalam teknik pembelajaran diterapkan pendekatan-pendekatan: (a) Setiap pembahasan beragam dimensi filsafat ilmu sebaiknya dilakukan dengan cara  menarik dan tidak monoton yakni dengan pemberian contoh-contoh nyata/aktual dari gejala-gejala sosial yang ada di masyarakat; (b) Aktif melibatkan mahasiswa untuk berpikir dan menganalisis fenomena sosial dengan menggunakan filsafat sebagai salah satu rujukannya. Misalnya dalam pemberian tugas makalah, diskusi, konsultasi, dan soal ujian. (c)Mengajak para mahasiswa untuk secara kritis  menelaah karangan atau tulisan yang mengandung filsafat dan kegunaannya dalam menyusun perumusan masalah dan kerangka penelitian ilmu-ilmu sosial. (d)Isi makalah filsafat ilmu   sesuai dengan bidang ilmunya masing-masing dan sebaiknya mencerminkan dimensi ontologi, epistemologi dan aksiologi.       

Iklan