Beberapa tahun terakhir ini semakin gencar pemahaman betapa pentingnya unsur kecerdasan emosional (EQ) yang melekat pada aspek kepemimpinan seseorang. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa kemampuan manajer dalam memahami dan mengelola emosinya dan juga emosi orang lain merupakan kunci kerberhasilan kinerja bisnisnya. Daniel Goleman  telah menulis dan menerbitkan buku berjudul Emotional Intelligence (1995) dalam Stuart Crainer dan Des Dearlove (Handbook of Management, 2001). Dia menyimpulkan bahwa kompetensi insani seseorang seperti kesadaran diri, kedisiplinan diri, ketekunan yang terus menerus, dan empati mempunyai pengaruh lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual (IQ) terhadap kinerja bisnisnya.

Goleman sebagai seorang psikolog mengadop pendapat Peter Salovey, seorang psikolog dari Universitas Yale, tentang arti kecerdasan emosional. Menurut Salovey, kecerdasan emosional dapat diamati dari lima perspektif yakni, pemahaman emosi diri, pengelolaan emosi, pemotivasian diri, pengenalan diri, dan membangun hubungan. Dalam bukunya yang lain berjudul Working With Emotional Intelligence,(1998), Goleman kembali menegaskan bahwa kompetensi pekerjaan yang didasarkan pada kecerdasan emosional memainkan peranan yang lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual atau ketrampilan teknis.

Pertanyaan yang muncul dari pendapat itu adalah apakah hal demikian berlaku untuk semua posisi pekerjaan seseorang. Hemat saya tidak demikian. Untuk para operator, ketrampilan teknis atau kecerdasan intelektual merupakan unsur kunci keberhasilan-prestasinya. Pada posisi seperti itu ketrampilan teknis harus lebih besar ketimbang kemampuan manajerialnya. Bisa dibayangkan seorang karyawan teknis produksi kalau kurang mengetahui unsur teknis dan semata-mata mengandalkan pada kecerdasan manajerial yang lebih besar  maka kinerjanya bukan membaik tetapi malah menurun. Namun bukan berarti kecerdasan emosi seperti motivasi dan menajemen diri tidak diperlukan.   Memang  seseorang akan lebih mampu lagi meningkatkan kinerjanya apabila memiliki dua jenis kecerdasan sekaligus. Istilahnya kedua dimensi kecerdasan itu bekerja bersama secara sinergis. Hal ini lebih nyata pada kemampuan seorang pimpinan.Dengan kecerdasan intelektual tertentu plus kecerdasan emosional yang lebih besar ketimbang orang lain  maka kinerjanya akan lebih tinggi.

Dilihat dari posisinya, semakin senior posisi seorang pimpinan semakin membutuhkan kecerdasan emosionalnya. Hal ini wajar karena salah satu tugas penting seorang pimpinan adalah dalam mengkoordinasi orang dalam mencapai visi dan tujuan bisnis tertentu. Hal ini juga dibedakan berdasarkan gaya kepemimpinannya. Sebagaimana diketahui ada beragam gaya kepemimpinan seperti yang bersifat paksaan (coercive) pada seseorang atau kelompok orang dalam setiap permintaan untuk segera dipenuhi; gaya otoritatif yang memobilisasi orang untuk mencapai visi organisasi; gaya afiliatif yang menciptakan suasana kerjasama harmonis; gaya demokratis yang membangun konsensus dengan cara partisipasi anggota-anggotanya; gaya perintis yang suka pada keunggulan dan bertindak cepat; dan gaya seorang guru yang mengembangkan kapabilitas orang. Semuanya berhubungan dengan orang.

Setiap pemimpin harus mampu menerapkan gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi. Misalnya ketika memimpin karyawan yang masih baru, seorang pemimpin sebaiknya menerapkan kepemimpinan yang berorientasi tugas dan intensitas pemantauan produksi tinggi (jumlah, mutu, tingkat kerusakan). Jadi disini dibutuhkan kecerdasan intelektual atau teknis yang lebih besar. Sementara ketika menghadapi karyawan yang semakin senior maka gaya kepemimpinannya berorientasi pada memelihara otonomi, motivasi dan hubungan sosial. Dan disini dibutuhkan kecerdasan emosional yang lebih besar.

Jadi bisa disimpulkan bahwa menganalisis hubungan keberhasilan seseorang dengan bentuk kecerdasannya harus dilihat secara proporsional. Dalam prakteknya perlu diposisikan dua kecerdasan itu dalam konteks dengan output (kinerja) dan posisi pekerjaan secara seimbang. Kecerdasan intelektual dapat dipandang sebagai syarat keutamaan. Tetapi syarat itu masih kurang dan harus ditambah dengan syarat kecukupan yakni kecerdasan emosional. Dan kecerdasan emosional seseorang itu sendiri cenderung berhubungan positif dengan faktor usianya. Semakin tua usia seseorang sampai batas tertentu semakin tinggi kecerdasan emosionalnya. Semakin besar syarat kecukupan seseorang semakin besar kemampuan untuk meningkatkan kinerjanya; pada tingkat kecerdasan intelektual dan posisi tertentu. 

Iklan