Siang tadi seorang mahasiswi bimbingan skripsi saya yang sudah selesai studi sarjananya (belum dilantik) datang ke kantor saya. Dia menceritakan bahwa dalam proses lamaran kerja di tiga instansi ternyata ditolak. Pasalnya  karena gagal pada tahap wawancara. Lalu meminta saya memberikan cara atau taktik bagaimana agar berhasil dalam proses wawancara. Saya tahu anak ini pandai. Nilai prestasi akademik komulatifnya termasuk sangat memuaskan. Namun ada satu masalah yang dia hadapi. Kalau berkomunikasi mudah gugup khususnya.kalau sedang  ditanya sesuatu tidak segera mudah dijawab. Bahkan terkesan kurang percaya diri kalau berkomunikasi.

Wawancara adalah suatu proses komunikasi. Disitu ada unsur-unsur komunikasi yaitu pengirim dan penerima pesan, isi pesan, media, simbol-simbol, dan umpan balik. Tentunya ada interaksi dan mungkin saja ada faktor kebisingan. Kalau antara pengirim dan penerima pesan sama-sama saling memahami isi pesan dengan baik dan tidak bising, dan didukung dengan media yang bagus maka wawancara berjalan dengan baik. Dengan kata lain telah terjadi interaksi positif.

Sebaliknya wawancara bisa berlangsung  tidak lancar. Hal ini terutama karena unsur   isi pesan yang tidak mudah dipahami dengan baik oleh kedua pihak. Si pelamar tidak memahami bahkan tidak mampu menjelaskan apa yang ditanya pewawancara. Hal serupa si pewawancara tidak memahami apa yang dijelaskan pelamar. Kalau sudah begitu kebisingan psikologis akan terjadi akibat adanya distorsi informasi. Si pewawancara bisa saja  emosional dan menggerutu.Sementara sang pelamar menjadi semakin gugup dan tak berdaya. Jelas saja insteraksi positif bakal tidak terjadi. Lalu bagaimana sebaiknya?

Kepada si mahasiswi itu saya jelaskan bahwa agar wawancara dapat berjalan dengan baik maka sekurang-kurangnya ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama adalah fase persiapan yang meliputi:

(1) pencarian informasi tentang profil tempat pekerjaan, misalnya bidang utama kegiatan instansi, prospek pengembangan karir, dan sistem kompensasi serta model wawancara. Hal ini penting agar pelamar dapat lebih mempersiapkan diri kalau dalam wawancara  ditanya tentang prospek pengembangan organisasi. Atau kalau ditanya berapa gaji yang diinginkan pelamar dan apa latar belakang melamar ke organisasi itu;

(2) pelatihan wawancara dengan cara simulasi; termasuk mempelajari teknik dan isi wawancara; bisa dilakukan sendiri dan atau bisa juga bersama orang lain;

(3) persiapan fisik dan mental;jangan sampai timbul kesan ketika si pelamar bertemu dengan pewawancara terlihat loyo dan tidak bersemangat; dan

(4) jangan lupa berdoa agar dapat tenang dan dimudahkan dalam menjawab pertanyaan pewawancara. Setelah itu apa yang perlu dilakukan ketika wawancara?

Pada fase kedua atau wawancara beberapa hal perlu dilakukan adalah:

(1) penampilan fisik yang rapi jangan kusut atau berantakan; kalau ini terjadi bisa menimbulkan efek halo pada si pewawancara; sebaliknya jangan pula berlebihan seperti seorang selebriti, artis penyanyi, yang mau naik panggung.

(2) jangan lupa ketika pertama kali bertemu pewawancara menyapa selamat (pagi,siang,atau sore); ini penting untuk memberi kesan keramahan dan perhatian pelamar; tetapi jangan berlebihan seperti menanyakan apa kabar, bagaimana tentang keluarga; dimana tempat tinggal;sudah berapa lama bertugas…dsb sampai-sampai ada kesan si pelamar sok ramah atau ingin serba tahu dan  alias “menjilat”.

(3) duduklah dengan tenang dan tataplah wajah pewawancara  dengan wajar; rileks; boleh senyum; tetapi tidak berlebihan seolah pelamar genit dan cari muka;

(4) simak baik-baik pertanyaan dan jawablah pertanyaan dengan langsung; hindari ucapan berbunga-bunga dan tak karuan; ini bisa menjengkelkan pewawancara;tidak usah merasa malu untuk bertanya balik kalau pertanyaan pewawancara kurang jelas;dan berterus terang juga kalau anda tidak tahu.

(5) hindari jawaban dengan menggunakan kata-kata “mungkin, barangkali, apa ya” atau dengan ungkapan eeem…aaaa….ooooo; wah kalau ini terjadi ada dua kesan yang timbul apakah pelamar tidak tahu jawaban  atau tidak percaya diri atau kedua-keduanya.

(6) jangan menimbulkan kesan isi jawaban pelamar bernuansa debat kusir dan malah menantang pewawancara; kalau ini terjadi maka kebisingan pun tak terhindarkan.

(7) setelah wawancara selesai,jangan lupa mengucapkan terimakasih dan selamat (pagi,siang,sore) kepada pewawancara; hindari pertanyaan apalagi merayu, misalnya bagaimana saya pak/bu ;apakah penjelasan saya cukup mantap; apakah saya bisa diterima? . Jangan timbul kesan sang pelamar  minta dibelas-kasihani.

Iklan