Bukan main. Betapa meriahnya suasana menyambut tahun baru 2008 di  ibu kota khususnya di lokasi Monas dan hotel-hotel berbintang. Betapa gemerlapnya suasana. Selain ada kembang api berseliweran,bunyi terompet bersautan, dan tentunya joged dangdut dan dansa-dansi di hotel. Pengunjung hotel begitu setianya datang ke hotel walau dengan tarif masuk sampai sekitar lima jutaan rupiah. Wow, bagaimana dengan para artisnya? Nah ini yang bisa bikin geleng-geleng kepala sang pegawai negeri. Tarifnya antara 150 juta sampai 500 juta rupiah perartis untuk seperenam hari. Sama besarnya dengan gaji  pegawai negeri termasuk dosen golongan IV selama sepuluh tahun.

Sementara itu, suasana begitu kontras telah terjadi. Ketika hiruk pikuknya suasana gemerlap, di beberapa pojok kota Betawi masih terasa suasana penderitaan (kegelapan). Begitu juga di ratusan desa di beberapa daerah. Hal yang sama terjadi. Rumah mereka terendam banjir. Mereka kedinginan, banyak yang sakit, dan tak berdaya untuk berbuat banyak menyelamatkan harta bendanya dari amukan air.Tentunya mereka berharap bantuan.Tidak saja makanan tetapi juga pakaian hangat, alat-alat sekolah, dan obat-obatan. Dalam kondisi hujan yang masih mengancam bakal terjadinya banjir susulan dan longsor, penderitaan mereka sepertinya tetap gelap.

Itulah kehidupan.Ada sisi gemerlap dan ada sisi gelap. Idealnya adalah hidup yang sama-sama gemerlap. Idealnya pula ketika terjadi ketimpangan sosial, mereka yang bergemerlapan mau berbagi suka. Yakni  dengan mengalihkan sebagian rezekinya untuk membantu mereka yang masih dirundung kegelapan.Misalnya pula ada acara penghimpunan  dana lewat acara hiburan di hotel atau di tempat istana atau balairung kepala daerah. Disitu ada lelang lagu atau sumbangan kemanusiaan.Istilah klasiknya adalah terjadinya solidaritas sosial. Nah siapakah yang akan memulai? Kapan lagi?