Hanya dalam hitungan  jam, insya Allah kita akan meninggalkan tahun 2007 dengan penuh syukur, dan mulai memasuki tahun 2008. Sepatutnya kita merenung apa saja yang sudah dicapai bangsa selama  ini. Dan  apa saja yang sudah kita perbuat bagi negeri tercinta. Ya, patut diapresiasi, tidak sedikit keberhasilan pembangunan nasional di berbagai sisi kehidupan yang telah dicapai pada tahun 2007. Hal ini ditunjukkan oleh indikator  makro seperti semakin kondusifnya kondisi sosial-politik-keamanan di Aceh dari situasi keamanan yang parah dan begitu panjang, tingkat inflasi di bawah dua digit, suku bunga bank menurun, perkembangan ekspor yang meningkat, nilai tukar rupiah yang  menguat, indeks harga saham mencapai tingkat tertinggi, dan pertumbuhan ekonomi yang lumayan mulai beringsut naik (walau tidak mencapai target).  Namun di sisi lain, selama ini masih terjadi hiruk pikuknya masalah yang dihadapi bangsa khususnya yang terjadi di lapangan. Masalah ricuhnya pilkada, kemiskinan, pengangguran, kesehatan dan gizi buruk, rendahnya akses pendidikan, keamanan, ketimpangan sosial, korupsi,  konflik sosial, bencana alam banjir-longsor-kebakaran hutan, dan pertanahan, masih menjadi unsur krusial.Sepertinya tak ada solusi tuntas.

  Walau di tahun 2007 bangsa Indonesia banyak mengalami keprihatinan namun di tahun depan   sebaiknya ada upaya dan sikap untuk  optimis dan tidak  memelihara  kesedihan hati. Mengapa? Karena saya yakin matahari sebagai sumber kehidupan masih terbit dari timur. Belum kiamat. Kalau  terlalu mengingat-ingat masa lalu,  itu sama  artinya kita menempatkan  diri  pada suasana yang tragis. Kita  bakal   terkungkung dalam perangkap keterpurukan. Kesedihan demi kesedihan tanpa berbuat apa-apa tak akan mampu mengatasi masalah. Hemat  saya, yang jauh lebih penting adalah berbuat yang terbaik  di posisi diri kita masing-masing  untuk keluarga, masyarakat, agama dan negeri tercinta ini. Insya Allah, apakah  sebagai presiden, menteri, gubernur, bupati/walikota, pejabat teras, pengusaha, profesional, dosen, pegawai biasa, sampai tukang beca sekalipun kita harus berbuat seoptimum mungkin.

Untuk mengurangi rasa duka, saya banyak mengutip beberapa untaian mutiara (huruf tebal) yang terdapat pada buku Don’t be Sad-La Tahzan karangan  Dr.Aidh bin Abdullah al-Qarni kaitannya dengan kondisi nasional  untuk mengantarkan bangsa ini memasuki tahun 2008:

Ø      Semua kejadian itu bukan hukuman Allah namun sebagai isyarat manusia harus selalu mengingat-Nya. Semua terjadi lebih karena ulah manusia dan kekeliruan sistem. Mulai dari lemahnya fokus strategi pembangunan dan manajemen pemerintahan sampai pada kurang efektifnya penerapan program reformasi di berbagai bidang, utamanya ekonomi dan hukum. Karena itu diperlukan evaluasi diri, perencanaan yang tepat, pengendalian dan pengawasan program secara ketat, ketegasan penegakan hukum, bertobat, bersabar, dan berbuat yang terbaik buat bangsaku. Keselamatan bagimu atas kesabaranmu (ar-Rad; 24). Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (az-Zumar; 10): Jangan bersedih, Tuhanmu mengampuni dosa dan menerima tau bat; seringlah memohon ampunan Allah; Ingatlah selalu kepada Allah; bekerja keraslah; Tunggulah  dengan sabar datangnya hasil yang membahagiakan; masih ada cara untuk memudahkan kita bersabar menghadapi setiap bencana.

Ø      Silang pendapat, misalnya dalam hal hasil pilkada, perbedaan pandangan tentang aliran agama, gerakan separatis, sampai timbulnya konflik horisontal dan vertikal mewarnai kehidupan bangsa selama ini. Tidak jarang sampai berdarah-darah. Jika tidak diatasi akan menimbulkan kerawanan keutuhan bangsa. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (al-Baqarah; 216): Jangan bersedih, ketika orang lain menzalimi, mencela dan meremehkan Anda; ketika kebaikan Anda tidak dihargai orang lain; kedengkian bukanlah sesuatu yang baru; maafkanlah perlakuan orang lain dan berbuat baiklah kepadanya;

Ø      Kecemasan masyarakat bisa jadi akan menimbulkan depresi berkepanjangan. Tidak tertutup kemungkinan ada orang yang putus asa dan mengambil jalan pintas yaitu menzalimi diri sendiri dan orang lain. Karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu (Ali ‘Imran; 153). Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami (Fathir; 34).  Jangan bersedih, selama Anda memiliki sepotong roti, segelas air dan sehelai pakaian di badan serta selembar tikar; jika Anda  berhadapan dengan masalah, justru seharusnya kuat menanggung dan tetap bersabar; carilah kebahagiaan di dalam diri Anda sendiri bukan dari sekeliling Anda.

Ø      Jangan berduka bangsaku. Mari mawas diri. Mari beroptimis diri. Percayalah Allah akan selalu beserta kita sejauh kita selalu dekat denganNYA dan berniat semata untuk memperoleh ridha-NYA: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (al-Baqarah; 155).

Artikel ini berupa adaptasi dari: Tb Sjafri Mangkuprawira, 2007, Rona

Wajah:Coretan Seorang Dosen.Jilid dua.IPB Press.

Iklan