Disadari atau tidak, rasanya  kita selalu berbicara sendiri setiap harinya. Ketika kita masih kecil pun, khususnya, anak-anak perempuan pada saat bermain boneka senang berbicara sendiri. Dalang pun begitu pula. Bagi orang dewasa, biasanya isi pembicaraan sendiri menyangkut komentar tentang sesuatu, isi pesan, himbauan, dan instruksi apa  dan bagaimana seharusnya kita berperilaku. Sepertinya tidak bisa dipercaya kalau ada  psikolog yang memperkirakan kita bicara sendiri paling sedikit 50 ribu kali per harinya (Kris Cole,2005,Management, NSW). Bayangkan kalau kita aktif (tanpa tidur) selama 18 jam seharinya berarti kira-kira setiap dua detik kita bicara sendiri. Apa benar seperti itu? Kadang-kadang kita sadar bicara sendiri dalam bentuk percakapan kecil tentang “apakah seharusnya atau tidak seharusnya saya….blablabla”?.

Pernahkah pula ketika kita sedang nonton film atau drama, kita secara sadar bicara sendiri: mengapa dia jahat, maunya apa, mengapa harus ditinju, dsb. Atau bicara: aduh cantiknya, wow hebatnya, ah kalau saya seperti dia, dsb. Terkadang pula hanya dengan memejamkan mata saja, betapa banyak yang kita bicarakan pada diri sendiri. Misalnya,ungkapan rasa gembira, rasa syukur, kemarahan, kesedihan, penyesalan, atau sedang memikirkan sesuatu,dsb. Begitu pula dengan sadar kita menggunakan instrumen mata terpejam untuk mempertimbangkan pesan atau instruksi tentang apa yang harus kita lakukan. Lalu dengan cara yang sama kita bertanya bahkan ragu apakah kita bakal mampu melaksanakannya.

Kalau anda seorang manajer, mungkin ada banyak contoh dari isi pembicaraan diri sendiri seperti: saya sering mendapatkan sesuatu yang salah; saya tidak cepat memahami persoalan; persoalan ini begitu rumit bagi saya; saya jarang mendapat sesuatu yang menyenangkan; saya jarang berhasil baik dalam mengerjakan sesuatu; lebih baik saya menghindari tugas;dsb. Itu isi yang bernada negatif. Tetapi bisa juga berisi hal positif seperti: saya optimis hal itu bisa saya kerjakan; saya akan berkonsentrasi; di kemudian hari saya harus berbuat yang lebih baik; saya tak akan mengecewakan atasan; saya harus hati-hati ketika berbicara dengan orang lain yang belum dikenal; saya gembira melakukan tugas ini; dsb.

Bicara sendiri (isi) pada dasarnya mencerminkan seberapa jauh rasa percaya dan keyakinan diri; yang merupakan unsur potensial untuk membentuk nilai harga diri  kita. Harga diri yang tinggi tercermin dari pemberdayaan mutu bicara diri sendiri.Sebaliknya harga diri yang rendah akan mencerminkan  mutu bicara diri sendiri yang terbatas. Menurut Cole, ini kemudian dikombinasikan dengan pola pikir untuk diarahkan pada perilaku kita; misalnya cara kita menggunakan keahlian, kemampuan, dan cara kita berkomunikasi dengan orang lain. Jadi setiap manajer butuh mutu bicara sendiri yang positif. Ini penting untuk membantunya menghadapi suasana pekerjaan yang biasa hiruk pikuk berubah menjadi kondisi yang tenang dan apik. Sementara bicara sendiri yang negatif akan membuat sesuatu menjadi lebih sukar.

Nah, bagaimana dengan proses dan mutu bicara sendiri yang anda lakukan? Hal  yang terpenting disadari adalah isi pesan dalam bicara sendiri itu adalah milik anda sendiri. Tidak melibatkan orang lain untuk berkomentar atau berinteraksi. Dengarkanlah isi bicara anda sendiri dengan hati nurani anda. Lalu pertanyakan; apakah dengan bicara sendiri telah mendorong  anda untuk membangun kepercayaan dan harga diri anda? Atau justru membuat tidak efektif atau tak ada gunanya? Jika ternyata bicara sendiri membuat semangat anda menurun, cepat-cepatlah diubah hingga mampu membangkitkan anda. Dan  jangan khawatir, seperti diungkapkan Henry Ford, berikut ini: “whether you think you can or you think you can’t—you’re right”.

Iklan