Pernahkah anda mengisolasi diri dari  lingkungan sosial? Saya yakin semua kita pernah. Tinggal lagi yang membedakan satu dengan lainnya adalah: dalam hal apa?, mengapa?, seberapa berat masalah yang anda hadapi?, berapa lama?, dimana?, dan motifnya apa?. Isolasi diri bisa terjadi  karena masalah individu, keluarga, pekerjaan, politik, dsb. Kalau sedang sedih, sedang berkonflik dengan anggota keluarga, sedang kecewa atau konflik dengan kolega atau atasan dalam pekerjaan, kecewa karena kekalahan politik; semua itu bisa memicu  anda untuk mengisolasi diri. Beratnya masalah mulai dari yang sangat ringan sampai dengan yang sangat berat. Mulai dari jangka waktu yang relatif sangat pendek sampai jangka sangat panjang. Tempat isolasi diri bisa di kamar pribadi anda sampai hijrah ke tempat yang jauh. Motifnya mulai dari upaya menenangkan diri sampai ke upaya merusak diri.   Apakah ada kerugiannya mengisolasi diri bagi diri anda atau lingkungan sosial? atau bahkan  sebaliknya yakni menguntungkan?

Kalau dilakukan dalam  waktu yang relatif pendek dan bertujuan menenangkan dan mengevaluasi diri maka mengisolasi diri  memiliki manfaat. Anda akan segera bangun dan semakin sadar untuk memperbaiki sifat diri. Sementara kalau dimensi masalahnya relatif berat maka mengisolasi diri bisa jadi butuh waktu yang lebih panjang. Ketika itu, anda berada dalam intensitas interaksi soial yang sangat rendah. Bisa-bisa komunikasi dengan keluarga pun rendah. Dalam konteks ini, isolasi plus menutup diri bukannya menolong anda tetapi malah bisa menghancurkan kejiwaan anda. Stres semakin berkepanjangan malah menjadi depresi berat.. Anda tidak mungkin bersosialisasi dengan sehat. Yang terjadi semakin menggumpalnya segala masalah yang anda hadapi sampai kemudian mengeras. Kalau sudah sampai begitu maka akan sulitlah dilakukan pencairan dan pemecahan masalah anda. Ini berarti produktifitas kerja anda akan semakin menurun tajam hingga ke titik nol. Lalu apa upaya untuk menghindari isolasi diri yang berkepanjangan?

Biasanya mereka yang suka cepat mengisolasi diri karena beragam faktor seperti  mudah emosional, sangat sensitif sosial, kurang percaya diri, mudah cemas, dan introvert. Tetapi ada satu lagi bentuk isolasi diri yakni karena sifat eksklusif. Sifat ini menekankan antara lain pada unsur pembedaan keyakinan, pandangan, dan status sosial. Karena itu sangat dianjurkan untuk memahami diri, menganalisis atau mengevaluasi diri dan mengubah perilaku diri. Hal itu tidak dilakukan hanya ketika menghadapi masalah saja. Namun perlu dilakukan secara berlanjut. Sudah menjadi bagian dari kehidupan. Ketika itu dilakukan maka kelemahan dan kekuatan secara bertahap akan diketahui. Dan ini modal insani yang signifikan untuk menghindari isolasi diri berkepanjangan. Selain itu intensiflah berkomunikasi secara horisontal dan vertikal dengan beragam strata sosial. Dengan jalan ini wawasan kehidupan anda akan tumbuh berkembang. Anda akan semakin ceria menghadapi kehidupan yang semakin keras ini.

Iklan