Sejak hadirnya ojek di muka bumi ini, saya kemarin naik ojek untuk kedua kalinya. Pasalnya ketika menuju kampus IPB Dramaga untuk mengikuti prosesi wisuda, saya terjebak dalam kemacetan total.Semua kendaraan angkutan kecuali sepeda motor jalan merayap. Jarak dari posisi tempat mobil saya ke kampus kurang lebih tiga kilometer. Saya perkirakan ke kampus bakal makan waktu 45 menit. Padahal kalau lancar dari tempat kemacetan ke tempat acara cuma butuh waktu 15 menit.Kalau saya bertahan dengan mobil pribadi berarti bakal terlambat lebih dari setengah jam. Artinya saya tidak bisa ikut acara.

Pikir punya pikir saya putuskan segera saja cari ojek. Sementara, saya minta sopir pribadi saya tetap mengendarai mobil menuju tempat acara. Dengan sepeda motor merek Honda keluaran tahun 2005, hanya dengan waktu 10 menit selamatlah saya tiba di tempat acara.Maklum dikendarai dengan setengah ngebut. Nyusup sana nyusup sini dengan lincahnya diantara mobil-mobil yang berdesakan.Bisa dibayangkan adrenalin terpompa begitu kerasnya menahan nafas. Ketika tiba, para kolega dan satpam tersenyum melihat saya,dengan pakaian berdasi, turun dari kendaraan sepeda motor. Yah pilihan menggunakan ojek karena memang lagi kepepet.

Kata kepepet, kalau tidak salah, berasal dari bahasa rakyat Jakarta. Artinya terpaksa melakukan sesuatu yang tidak biasanya karena desakan keadaan tertentu.  Kata itu sangat familiar di kalangan tertentu. Misalnya bagi rakyat yang terpaksa makan nasi  jagung plus garam atau ikan asin ala kadarnya. Bahkan ada yang hanya makan sekali dalam sehari atau bahkan tidak makan sama sekali. Begitu juga banyaknya usia sekolah bahkan anak-anak kecil yang terpaksa berkeliaran di jalanan minta sedekah,menawarkan jasa musik dan payung juga karena terpaksa. Selain itu ada yang tidur di emperan toko dan tinggal di kolong jembatan.

Semua fenomena keterpaksaan itu karena kepepet hidup dalam kemiskinan. Sepertinya tak ada pilihan lain. Apapun dilakukan asalkan bisa bertahan hidup. Bahkan karena unsur kemiskinan dan kepepet ingin bertahan hidup, tidak jarang banyak yang nekad dan terpaksa menjadi pencuri dan perampok.Namun bagaimana dengan pejabat teras berperilaku korupsi, pengusaha pembalak liar, dan para manipulator? Apakah itu karena kepepet ingin hidup ”mewah”? Bukan…bukan karena kepepet tetapi karena sifatnya yang memang ”rakus”. Oknum seperti itu tak pernah puas dengan kekayaan yang dimilikinya. Jangan-jangan kalau perlu, bumi ini ditelannya.

Iklan