Sabtu ini merupakan hari pahlawan.Pahlawan sering digambarkan sebagai seseorang yang gagah berani. Tindakannya semata untuk merebut kemerdekaan dari penjajahan. Tanpa disuruh dan dipaksa. Semua serba spontan karena panggilan bathin untuk membela negara.Itu dahulu ketika zaman kemerdekaan. Penuh dengan peristiwa heroik. Dan  dengan semangat mati-matian. Merdeka atau mati. Bagaimana dengan sekarang?

Yang disebut pahlawan (pejuang) bukan selalu dalam arti mereka yang memerangi kebathilan secara fisik. Pertanyaannya apakah di zaman ini ada cukup banyak pahlawan dalam artian sebenarnya?. Adakah pahlawan, misalnya yang memerangi ancaman bahaya korupsi, dan  serbuan peredaran narkoba secara tegas?. Adakah pula mereka yang memerangi ancaman kebodohan, keterbelakangan,dan kemiskinan?

Saya tidak tahu percis berapa jumlahnya mereka yang tergolong pahlawan.Yang saya tahu dan perlu dihargai adalah antara lain mereka para relawan bencana alam dan kemanusiaan, para pionir inovasi pelestarian lingkungan, para guru terutama di daerah yang terpencil, para peneliti unggul, para petani dan nelayan,  militer dan polisi serta petugas hukum lainnya yang profesional dan jujur. Nah ada satu lagi yang  disebut pahlawan yakni pahlawan ”kesiangan”. Yakni  mereka yang teriak-teriak mengaku pahlawan namun dengan dedikasi semu. Dan tindakannya selalu sangat terlambat karena sudah dilakukan orang lain.Konon sering disebut opportunis.

Yang patut dijawab oleh bangsa ini adalah bagaimana mensosialisasikan dan menginternalisasikan apresiasi dan tindakan-tindakan kepahlawanan di semua kalangan masyarakat. Dari visi ke tindakan nyata. Tidak zamannya lagi berucap retorik tanpa tindakan heroik buat bangsa.Perlu teladan nyata utamanya dari para pemimpin. Rakyat sudah bosan dan lelah dengan serba ketertinggalan. Kapan lagi berlomba berbuat kebajikan?

Iklan