1.Dilema Palsu

Kita  dihadapkan hanya pada dua pilihan yaitu ”hitam” atau ”putih” walau tersedia pilihan lain; umumnya dengan menggunakan kata ATAU: ” Jika Anda tidak mendukung Amerika berarti Anda mendukung terorisme”. KONDOM : ”Kenakan atau Kena”

2. Atas dasar Ketidaktahuan

Argumen ini berasumsi,sesuatu harus dianggap benar hingga ada bukti yang menyatakan sebaliknya. Sesuatu yang belum terbukti benar menurut asumsi ini harus dianggap salah. Contoh: ”Karena Anda tidak bisa membuktikan hantu itu tidak ada, berarti hantu itu ada”.

3. Klaim Klereng Licin.

Memakai logika ”jika-maka”. Contoh: ”Anda tidak boleh berjudi. Sekali saja mencoba akan sulit menghentikaannya. Uang Anda akan habis untuk berjudi lalu Anda akan menjadi kriminal untuk menopang hidupmu”.

4. Klaim dengan pertanyaan rangkap.

Ada dua hal yang tidak berhubungan menjadi satu kesatuan. Kenyataannya bisa jadi cuma satu hal saja yang diterima. Contoh: ”Apakah Anda sudah berhenti menyakiti isteri?”

5. Argumen bermodalkan Kekuasaan.

Memanfaatkan kekuasaan agar orang lain menerima klaim yang disampaikan. Biasanya dengan ancaman dan paksaan. Contoh: ”Sebaiknya Anda menyetujui kebijakan baru di kantor ini kalau Anda masih ingin bekerja di sini”  

6. Argumen yang mengimbau belas kasihan

Mencoba mempengaruhi orang lain untuk menerima klaim atas dasar rasa kasihan. Contoh: ”Ibu Anu (dosen), saya percaya Ibu orangnya baik dan akan menolong saya memberi nilai A untuk menutupi nilai mata kuliah lainnya yang jatuh.”

7. Argumen emosional dan kental prasangka

Argumen yang kental dengan prasangka berisi muatan emosi nilai atau moral untuk ”mendukung” suatu klaim. Contoh: ”Orang yang rasional akan sangat setuju pada pernyataan bahwa penghasilan kita ini terlalu rendah di dunia”.  

SUMBER INFORMASI

Geoffrey Petty. 1997 . Memaksimalkan potensi kreatif (terjemahan). PT Elex Media Komputindo.Jakarta

onceuponaweblog.

blogspot.compriyadinet/archievers

www.studygs.net

http://www.cesd.wvu.edu  

Iklan