Pernahkah anda mengatakan tidak pada seseorang? Pasti pernah dan biasanya kalau anda sedang merespon perkataan atau ajakan orang lain yang tidak sesuai dengan  nurani atau nilai-nilai yang anda anut. Kata tidak bisa langsung diucapkan tetapi ada juga yang cuma dipendam dalam hati. Itu antara lain bergantung dengan siapa anda berucap. Kalau dengan orang yang relatif berstatus sosial sama, apalagi dengan yang lebih rendah, anda biasanya langsung mengatakan tidak. Sebaliknya dengan yang berstatus lebih tinggi misalnya dengan orangtua  dan bos anda.

          Katakanlah anda ingin bersikap tegas (asertif) mengatakan tidak pada bos. Maka siap-siaplah anda menghadapi resiko yang terburuk. Kalau dengan bos yang demokratis, inspiratif, simpatik, dan empatik, maka ucapan tidak yang diterima dari anda akan disikapi positif. Asalkan disampaikan dengan alasan yang patut dan santun. Pasti resikonya bakal mendekati nol. Namun kalau dengan bos yang memang punya sifat pemarah dan apriori, anda harus sudah siap dengan hujatan-hujatan. Konon itu sama saja anda membangunkan singa  tidur. Ia siap menerkam anda. Ngauman bodoh, tak tahu diri, kurang ajar, brengsek,dsb bakal anda terima. Atau malah sang bos tidak mengaum alias mendiamkan anda seribu kata. Namun apakah lalu anda akan selalu tidak tegas? Padahal kalau anda bersikap demikian maka beban mental dan fisik akan bertambah banyak. Dan pada gilirannya akan terjadi trade-off yakni produktifitas anda menurun. Jadi anda harus punya keberanian walau pada tahap awalnya anda takut dan akan menghadapi resiko besar.

Nah untuk itu berikut tips; dimana  saya terinspirasi (adaptasi) dari Ros Jay (How to manage boss; 2002,Pearson Education Limited).

(1).Tidak ada alasan anda merasa bersalah untuk mengatakan tidak kalau memang itu layak untuk dilakukan.Itu adalah hak anda.Niatkan hati anda bahwa tindakan tegas anda merupakan bagian dari syiar kebajikan.

(2).Sampaikan sejelas-jelasnya dan santun mengapa anda mengatakan tidak. Hal ini akan membantu menjernihkan suasana bathin pada bos.Walau didahului dengan sikap apriori, namun biasanya dengan waktu yang cukup untuk merenung, pada gilirannya sang bos akan mau mengerti.

(3).Tetaplah bersikap tegas kalaupun bos memaksa anda mengikuti kemauan atau perintahnya. Bersabarlah dan berikanlah alasan-alasan tanpa harus meninggikan suara dengan wajah anda yang seram. Jangan menimbulkan  kesan bahwa anda agresif bahkan provokator.

(4).Kalau dianggap perlu, anda sebaiknya menawarkan solusi atau pilihan lain. Ini penting untuk menghindari salah tafsir bahwa anda termasuk sebagai penghindar tugas dan perintah bos atau pembangkang. Insya Allah sang bos hanya beremosi seketika saja dan  lambat laun mau mengerti.