Sumpah Pemuda :satu. tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia. Ikrar itu dideklarasikan 79 tahun yang lalu dalam Kongres Pemoeda di Jakarta. Lahir sebagai refleksi dari kebangkitan nasional. Ia juga sebagai cikal bakal  dan sumber inspirasi lahirnya kemerdekaan. Intinya adalah bagaimana dengan sumpah pemuda dapat diwujudkan spirit kebangsaan, kesatuan dan persatuan bangsa pada setiap warganegara Indonesia. Dalam tataran kehidupan bangsa jangka panjang ia merupakan sebuah kontrak politik. Pertanyaannya apakah semangat itu masih begitu menggelora hingga kini? Apakah  spirit sumpah pemuda yakni kemerdekaan dan kebebasan sudah terwujud? Kemerdekaan dan kebebasan dari penjajahan tidak perlu diperdebatkan. Namun utamanya kebebasan dari ketidak-adilan perlakuan hukum, keserakahan (korupsi), konflik sosial, kebodohan, kesehatan, dan kemiskinan ternyata belum sepenuhnya. Dari sisi kemiskinan antara lain terlihat dari angka pengangguran khususnya di kalangan pemuda.

Angka pengangguran terbuka pada tahun 2005 tercatat lebih dari sepuluh juta orang atau 9.86% dari jumlah angkatan kerja. Ditambah dengan pengangguran setengah terbuka sebanyak 27,.5% maka total angka pengangguran menjadi sekitar 29 juta jiwa. Dari angka  pengangguran terbuka, sebanyak 37.8% itu merupakan angkatan kerja berusia muda (15-24 tahun). Bisa dibayangkan apa yang terjadi pada kalangan muda itu. Pada sisi mikro bakal terjadi perasaan stres dan depresi bahkan seperti warga tak berguna. Tidak jarang lalu nekad melakukan tindakan kriminalitas.  Pada sisi makro pengangguran merupakan pemborosan sumberdaya khususnya sumberdaya manusia (SDM), beban keluarga dan masyarakat, sumber utama kemiskinan, dan hambatan pembangunan jangka panjang. Lalu bagaimana sebaiknya? Apakah perlu ikrar sumpah pemuda yang baru?

Tidak perlu ikrar sumpah pemuda yang baru. Terpenting bagaimana menterjemahkan spirit sumpah pemuda dalam wujud nyata dalam suasana kebersamaan. Untuk itu sektor investasi seharusnya mampu mengatasi pengangguran. Memang hasilnya belum memuaskan karena investasi lebih banyak pada produksi manufaktur yang bercirikan kapital intensif. Sementara pembangunan pertanian dan perdesaan juga belum maksimum mengatasi pengangguran dan kemiskinan. Selain menggerakkan dua sektor tersebut secara optimum tak ada salahnya kalangan pemuda membangun suatu ”gerakan nasional produktivitas” di berbagai sektor kehidupan untuk mengatasi pengangguran. Termasuk di dalamnya penerapan sistem pengembangan SDM yang link and match dengan dunia kerja. Gerakan ini akan menjadi payung dalam mengimplementasikan strategi pembangunan yang  pro growth, pro job, dan pro poor.   

Iklan