Beberapa waktu lalu, ada seorang sahabat bercerita pada saya tentang pengalaman dia dalam berteman dengan seseorang. Kisahnya begini: “saya pernah ngobrol dengan seseorang, namun yang terjadi teman itu begitu dominan bicara tentang dirinya sendiri. Dia begitu asyik cerita tentang kesibukannya,  banyak diminta oleh instansi ini-itu sebagai pembicara, sampai jumpalitan, dan juga tentang kesuksesan keluarganya. Di sisi lain, dia alpa berinisiatif menyapa  tentang kondisi dan kesibukan saya dan keluarga saya. Kalau toh ada inisiatif saya untuk menceritakan sesesuatu tentang diri saya, hampir-hampir malas diresponi. Padahal diyakini, bahwa dia tahu saya banyak kegiatan, tambahnya. Tahukah dia bahwa dalam ngobrol seharusnya dapat diciptakan suasana menyenangkan dimana kehadiran masing-masing menjadi sama-sama penting; tidak ada yang dicuekin”? Begitulah sahabat saya itu berkeluh kesah.

          Lalu teman saya itu bercerita tentang hal yang lain; “ketika  punya cukup banyak program, saya pernah mengajak teman saya tersebut untuk mengerjakan sesuatu kegiatan seperti pengajaran, pelayanan pada masyarakat, dan penelitian. Bahkan saya kerap memberi pendapat tentang sesuatu pada dia. Namun demikian, belakangan ini dia sendiri hampir-hampir tidak pernah meminta jasa saya lagi untuk bekerja sama dengannya. Bahkan lama kelamaan sangat  jarang  meminta pendapat  saya dalam  bidang tertentu. Karena mungkin merasa dirinya sekarang sudah kompeten. Sudah menjadi orang penting”. Demikian  ungkapan panjang lebar sahabat saya bertubi-tubi sambil meminta komentar saya. 

         Lalu saya memenuhi permintaan teman itu, seperti ini: Ya, walaupun sangat jarang sekali, saya percaya hampir tiap orang pernah mengalami situasi seperti yang diceritakan teman itu. Dan dalam obrolan, ada orang yang cukup mendengarkan cerita dengan kesabaran, simpati dan empati. Dia  tidak peduli apakah orang itu tidak bertanya tentang dirinya, dan atau tidak meminta dia  lagi untuk berkerjasama dengannya. Itu adalah haknya. Di sisi lain  pasti ada juga yang merasa kesal dengan orang  yang begitu egois. Dan cenderung dengki. Hemat saya tidaklah seharusnya kita  bersikap demikian. Itulah komentar saya pada teman itu. …….dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki” (al-Falaq; 5).ataukah mereka dengki kepada manusia  lantaran karunia  yang Allah telah berikan kepadanya? (an-Nisa; 54). Sumber : Tb Sjafri Mangkuprawira, 2007, Rona Wajah:Coretan Seorang Dosen,Jilid 2,IPB Press.

Iklan