Pagi ini kembali umat muslim memenuhi berbagai tempat untuk sholat Idul Fitri. Takbir, tasbih dan tahmid bergema di mana-mana. Idul Fitri merupakan momentum kemenangan umat selepas dari menjalankan ibadah puasa ramadhan sebulan penuh. Kembali ke fitrah-kesucian. Namun refleksi kemenangan tidak semestinya diwujudkan dalam bentuk bermegah-megahan pesta  besar. Kalau  seperti itu berarti akan mengerosi dan menjadikannya sifat riya jauh dari takwa. Bahkan boleh jadi menimbulkan kecemburuan bagi mereka yang kurang beruntung merayakannya. Karena itu makna kemenangan seharusnya berimplikasi pula pada peningkatan iman dan takwa, rasa solidaritas kemanusiaan, kesederhanaan, kesabaran, dan kedamaian.

Kemenangan yang diraih, normatifnya karena individu yang berpuasa penuh itu telah mampu menjauhi dari sifat keserakahan harta dan tahta, dengki, dendam, dan nafsu duniawi.  Namun mengapa masih saja dalam bulan suci ramadhan kemarin ada kejadian-kejadian berdarah? Mengapa masih terjadi pembunuhan, kriminalitas dan sebangsanya? Mengapa tawuran antarumat muslim di daerah tak terhindari? Mengapa penyakit korupsi makin mewabah? Padahal bulan ramadhan seharusnya diisi penuh dengan spirit kesucian diri dan solidaritas sosial. Bulan penuh kasih rasa sayang dan toleransi sosial, utamanya bagi mereka yang tertinggal.

Mereka  yang tergolong kaum dhuafa adalah  yang tinggal antara lain di rumah gubuk ukuran sekitar 10 meter persegi, di kolong jembatan, di emperan toko dan di pengungsian. Mereka yang selalu berpikir apakah hari ini dan esok masih bisa makan wajar ataukah  busung lapar sebagai akibatnya? Apakah besok kalau sakit bisa ke puskesmas dengan gratis ataukah maut menjemputnya? Apakah anaknya besok bisa terus sekolah ataukah putus sekolah jadi pilihannya? Apakah besok bisa bayar kontrakan rumah reyot ataukah penjara jadi rumah pordeonya? Pokoknya mereka adalah yang tertinggal dalam segala segi kehidupan. Tidak kurang dari 30 juta’an jiwa termasuk golongan ini.

Lalu pertanyaannya sudah sejauh mana lembaga-lembaga kemasyarakatan seperti lembaga zakat, infaq dan sedekah (ZIS) dan lembaga advokasi lainnya telah mampu mengotimumkan kehidupan mereka? Seberapa banyak yang mustahik telah berubah menjadi muzaki? Mengapa potensi ZIS yang konon belasan triliunan namun hanya terkumpul  ratusan milyar rupiah saja? Apakah penerapan manajemen ZIS  profesional sudah dilakukan? Lalu sejauh mana kaum kaya berbagi simpati dan materi  buat mereka. Misalnya sebagai orangtua asuh di bidang pendidikan?  Juga sejauh mana masjid sudah dimakmurkan sebagai pusat pengentasan kemiskinan  materi dan nurani? Dan sudah sejauh mana pula pemerintah mampu menangani krisis kemiskinan ini secara lebih serius? Padahal itu kewajibannya?

Kalau semua belum optimum lalu apanya yang keliru? Apakah pemahaman dan implementasi ajaran agama oleh umat yang belum optimum? Apakah sistem sosial atau individunya? Kalau sistem sosialnya apakah berarti telah terjadi transformasi struktural yang negatif? Apakah suatu sistem solidaritas sosial telah beralih ke sistem ekonomi yang berujung terciptanya manusia-manusia berwatak rakus layaknya binatang? Dari sikap  toleransi kolektif menjadi individualistik dan serakahisme?  Lalu sejauh mana masjid mampu menangkal sisi negatif itu? Kalau belum apakah fungsi masjid selama ini masih sebatas tempat ritual belaka? Wallahualam.

Maafkan, kali ini saya cuma bisa lebih banyak bertanya. Maksudnya hanya untuk mengajak kita, khususnya saya,  berpikir kritis dan segera bertindak nyata. Dengan semangat Idul Fitri mari memberdayakan masyarakat miskin. Tidak  ditunda-tunda lagi. Umat muslim diingatkan Allah dalam surat Al Ma’un ayat 1-3 ” (1) Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?. (2) Itulah orang yang menghardik anak yatim. (3) Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”.

Kita maknai pula pesan agama bahwa ”setelah kesulitan ada kemudahan”. Semakin keras dan kesulitan seseorang semakin dekat pula ia pada kemudahan, kenikmatan dan pertolongan Allah. Menurut ’Aidh bin Abdullah al-Qarni (2005; La Tahzan-Dont be sad): ”Bukankah dari akhir gelapnya malam adalah pagi yang cerah?”. Optimis. Saudaraku, Minal Aidin wal Faidzin.  Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir bathin,1428H.

Sumber: adaptasi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira,2006,Rona Wajah:Catatan Seorang Dosen,IPB Press.  

Iklan