Saya sekeluarga harus sudah siap mental dan fisik. Pasalnya setiap satu atau dua hari menjelang lebaran pasti kedua asisten rumahtangga (ART) saya ”cuti” pulang mudik. Yang satu, namanya Tinah,  sudah bekerja di rumah saya sekitar 18 tahun dan yang lainnya, Ipa, sekitar satu tahun. Dalam keadaan mereka pergi cuti berarti tidak kurang dari sepuluh hari keluarga saya harus betul-betul berkonsolidasi. Kami harus mengatur tugas pekerjaan rumahtangga. Biasanya yang paling repot isteri saya. Mulai dari memasak, memanaskan masakan sampai menyajikannya di meja makan. Padahal pekerjaan kantornya (dosen dan konsultan) menumpuk. Sementara anak saya terkecil, juga dosen, dibantu anaknya berusia sembilan tahun sudah bakal sigap membantu isteri saya. Dua anak saya lainnya, dengan keluarganya, baru selesai bertugas belajar di luar negeri. Insya Allah mereka akan kumpul di rumah saya, ikut membantu melakukan pekerjaan rumahtangga. Termasuk sibuk membuat kue lebaran. Kehadiran mereka  meringankan tugas kami.

Untung saja kami (isteri dan saya) sudah membiasakan anak-anak bekerja bersama ketika mereka masih berusia enam tahunan. Ketika itu hampir selama tiga tahun kami tidak memiliki ART. Isteri memasak sebelum pergi kuliah. Anak saya  tertua (perempuan) bertugas memanaskan masakan; anak saya terkecil (perempuan) menyajikan masakan di atas tikar. Kebetulan kami kalau makan tempatnya di lantai, karena ketika itu kami  tidak punya meja yang cukup lebar. Sementara anak saya kedua (lelaki) membereskan semuanya setelah makan usai. Mereka kemudian bertiga mencuci alat-alat makan yang kotor. Kamar tidur dirapikan sendiri oleh mereka masing-masing. Saya bertugas belanja kebutuhan sehari-hari, membersihkan halaman dan terkadang merapikan rumah termasuk ngepel lantai.

Jadi kami sekeluarga   tidak begitu kaget lagi dengan pekerjaan rumahtangga yang bakal menumpuk. Cuma masalahnya sering berbenturan dengan pekerjaan kantor yang banyak. Nah ketika itulah kehadiran pekerja domestik   menjadi sangat bermakna. Betapa mereka memegang peranan penting dalam membantu kami untuk mengoptimumkan alokasi waktu dan tugas pekerjaan kantor. Kami sangat tertolong karena semua pekerjaan rumahtangga sudah serba beres dikerjakannya. Kami percaya betul kepada keduanya  karena mereka sudah piawai  bekerja.  Lagi pula keduanya jujur dan mampu kerja mandiri. Jadi fungsi kendali kerja dari kami relatif kendor.  Pokoknya sudah seperti keluarga saja.

Ketika mereka cuti, secara pribadi kami akan merasa ”kehilangan”. Semakin lama tidak jumpa semakin terasa penting kehadirannya. ART sudah sebagai salah satu kebutuhan dasar. Tetapi biarlah, toh cuma tujuh sampai sepuluh hari dalam setahun.  Bertemu untuk silaturahim dengan keluarga adalah kebutuhan manusiawi-nurani mereka. Kami sewajarnya ikhlas mereka pulang mudik. Itu adalah wujud empati, simpati dan penghargaan kami  atas hak asasi  dan pengabdian mereka. Selamat mudik Tinah dan Ipa.  

Iklan