Di salahsatu ujung jalan bilangan Senayan, Betawi, ada seorang  kuli bangunan serabutan sedang nongkrong memperhatikan pemudik yang akan berangkat ke kampung halaman. Lalu  seseorang  yang sedang lewat di situ bertanya padanya; Mas kok engga ikut rombongan mudik?  Saya tidak tahu mau mudik kemana Pak, jawabnya. Lho, mengapa? Sambil tertunduk sedih dia bilang: ‘saya sekarang ngga punya desa lagi’. Lhaa…memangnya kenapa, tanya orang itu, penasaran. Desa Siring di Sidoarjo, tempat saya dilahirkan dan dibesarkan hilang tertelan lumpur panas. Tidak tahu saya akan tinggal dimana, kalau mudik. Tidak tahu pula dimana sanak saudara tinggal. Tiada lagi kuburan orangtua dan kakek-nenek yang diziarahi; tiada tempat berenang ria di sungai kecil; tiada sawah menguning untuk dipanen; dan tiada lagi pekarangan tempat doeloe bermain sesama teman’. ‘Ya inilah nasib saya, Pak; belum lagi saya tidak punya uang cukup untuk mudik’.

        Setelah merenung sejenak, orang yang tergolong misterius itu merogoh koceknya dan memberi uang  kepada sang kuli, sekedar memenuhi keperluan lebaran. Sambil berlalu, sang misterius menggeleng-geleng kepala, dan pilu.  Dia yakin, kuli bangunan itu tidak sendirian. Masih banyak yang bernasib serupa. Dia membayangkan pasti masih ada korban lumpur panas Sidoarjo, dan korban gempa Bengkulu, serta korban-korban bencana lainnya yang nanti akan  berlebaran di tenda-tenda. Ya Allah ya Rabbi mohon lindungi dan tabahkan mereka. Dalam segala keterbatasannya, berikanlah mereka kebahagiaan di suasana hari kemenangan ini. Amin. Diadaptasi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira, 2007, Rona Wajah:Catatan Seorang Dosen, IPB Press.

Iklan