Kata dilarang sangat mudah dijumpai di lingkungan kita. Coba kita lihat ada kata-kata: dilarang masuk, dilarang merokok, dilarang kencing disini kecuali anjing, dilarang berisik, dilarang saling mendahului (kendaraan), dilarang parkir, dilarang belok, dilarang terlambat datang, dilarang nyontek, dilarang mengutip dsb. Bagi pegawai negeri sipil dan ABRI-Polisi, kata dilarang sering diucapkan ketika membacakan sumpah jabatan. Tetapi untuk maksud yang sama sangat jarang dijumpai kata-kata: dimohon tidak masuk, dimohon  merokok di area merokok, dimohon  kencing di tempatnya, dimohon tenang, dimohon untuk tidak ngebut, dimohon tidak parkir disini, dimohon tidak belok, dimohon datang tepat waktu,  dsb.

Dilarang berarti tidak mengizinkan orang untuk melakukan sesuatu. Jadi kalau orang itu melakukan sesuatu yang tidak diizinkan resikonya bakal dikenakan sanksi. Dari sanksi ringan sampai sanksi berat. Sementara dimohon berarti meminta orang untuk tidak melakukan sesuatu. Ada pesan moral. Cenderung tidak ada sanksi kalau orang itu melakukan sesuatu. Alasannya karena cuma dimohonkan atau dimintakan. Bernada mengajak dan mengingatkan. Bahkan sering bernuansa tidak tegas.

Penerapan kedua kata itu diduga sangat terkait pada perkembangan masyarakat. Suatu masyarakat yang tingkat kesadaran dan kedisiplinan sosialnya sudah tinggi cenderung tidak perlu ’dilarang’. Termasuk kepada mereka yang status sosialnya lebih tinggi. Kata yang dipakai lebih bernada menghimbau atau mengingatkan yaitu ’dimohon’. Bahkan ditambah kata lebih halus  ‘berkenan’ Misalnya ketika ada suatu upacara seseorang mengumumkan: ”menyanyikan lagu kebangsaan: kepada khadirin dimohon  berkenan berdiri”. Karena semacam himbauan moral maka kalau ada yang tidak melakukannya tidak dikenai sanksi tegas. Yang ada cenderung lebih pada sanksi sosial, misalnya semacam teguran atau cemoohan dari hadirin. 

Sebaliknya kata dilarang sering dipakai dalam suatu masyarakat yang tingkat kedisiplinan sosialnya relatif masih rendah. Terhadap tipe masyarakat seperti itu nada ’peringatan’ berikut sanksi dianggap masih diperlukan. Boleh jadi awalnya perlakuan terhadap masyarakat itu  menggunakan   kata dimohon. Semacam ajakan atau himbauan. Namun rupanya tidak mempan karena setelah beberapa kali diperingatkan masyarakat itu masih saja ‘melanggar’ himbauan. Ada sikap menyepelekan. Padahal seruan himbauan itu menyangkut kepentingan publik dan privasi. Dalam situasi itu kata dimohon bisa berubah menjadi kata dilarang. Dengan kata lain ada perubahan dari nada ’mengingatkan’ menjadi ’memperingatkan’.

Penggunaan dua kata itu sebenarnya wajar-wajar saja asalkan proporsional. Artinya jangan sampai untuk suatu perbuatan yang berimplikasi pada ’hukuman’ digunakan kata dimohon. Sebaliknya jangan untuk sebuah perbuatan yang berimplikasi pada kesadaran moral digunakan kata dilarang.  Di Singapura yang masyarakatnya sudah dikenal berdisiplin tinggi, seharusnya kental dengan kata dimohon. Tetapi ternyata kata dilarang masih dipakai. Contohnya di lokasi publik umum orang dilarang merokok. Bukan dimohon untuk tidak merokok. Kalau larangan itu dilanggar dan  diketahui polisi atau petugas maka si perokok itu siap-siap saja didenda dengan tegas.

Begitu pula di China. Saya dan seorang teman juga pernah mengalami hal yang sama ketika merokok di suatu lokasi wisata di Beijing  dua belas tahun lalu. Gara-garanya karena kami tidak mengerti kata larangan dalam bahasa mandarin. Tiba-tiba saja datang seorang petugas berseragam. Dengan ramahnya mereka menjelaskan dan menunjuk kata larangan. Dia menggunakan simbol tangan dan bibir pertanda larangan merokok. Setelah itu petugas langsung menenda kami. Kemudian kami diberi secarik kertas berisi bahasa mandarin; tanda lunas. Saya acungkan jempol atas keramahan dan  ketegasan si petugas itu. Tidak ada kompromi dengan larangan sekalipun dengan orang asing. Katakanlah salah kalau itu  salah walaupun pahit. Bagaimana dengan di lingkungan kita? Kata orang cincai aja lah….

Sumber: Tb.Sjafri Mangkuprawira, 2006, Rona Wajah,Coretan Seorang Dosen,IPB Press

Iklan