Seringkali dalam dunia bisnis dikenal motto atau bahkan slogan “manusia adalah aset terpenting bisnis kami”. Secara eksplisit hal itu untuk menghargai mereka. Namun bagaimana dalam prakteknya? Tidak jarang terjadi ketidak-taatasan dengan kenyataan. Diagungkan dalam motto, tetapi tertindas dalam prakteknya. Misalnya karena perusahaan terlalu banyak menggunakan pola produksi berpadat modal sebagai pengganti unsur porduksi manusia. Alasannya demi efisiensi.

         Sementara itu bisa jadi karyawan hanya dipandang sebagai unsur produksi yang tidak ada bedanya dengan unsur lainnya dan kurang manusiawi. Sebagai contoh, masih ada perusahaan yang menerapkan sistem upah, iklim kerja,dan kepemimpinan yang kurang kondusif. Ujung-ujungnya terjadilah protes berupa demonstrasi dan mogok kerja.  Pihak manajemen tidak tinggal diam lalu mengambil jalan pintas berupa pemutusan hubungan kerja.

        Secara universal sebenarnya karyawan dan potensinya adalah elemen utama dari keberhasilan suatu bisnis. Berbeda dengan unsur produksi lainnya, karyawan memiliki kepribadian yang aktif, banyak menggunakan intuisi, dinamis, dan sensitif. Tanpa manusia tidak mungkin sebuah proses produksi akan berjalan optimum sekalipun terdapat unsur substitusi. Tinggal lagi bagaimana setiap karyawan dikondisikan sedemikian rupa agar motivasi dan produktifitas kerjanya selalu tinggi.

       Bagaimana  perusahaan seharusnya  mampu mengoptimumkan sumberdaya manusia berupa tingkat pengetahuan, ketrampilan, sikap, etos kerja, emosi, kejujuran, dan kepemimpinan lewat proses pembelajaran secara berkelanjutan adalah menjadi hal sangat penting. Perkembangan kebutuhan materi dan bukan materi  para karyawan pun seharusnya terus dipantau dan sejauh mungkin dipenuhi perusahaan. Sejalan dengan itu mereka sangat layak diperlakukan sebagai mitra ketimbang sebagai bawahan yang sangat kental dengan aturan hirarkis.

     Dengan demikian antara kepentingan perusahaan dan kepentingan karyawan mengalami sinergitas yang tinggi. Pendekatan ini dinilai penting manakala  perusahaan tergolong sebagai organisasi belajar. Yakni suatu perusahaan yang selalu menekankan dan berorientasi pada mutu proses dan hasil (kinerja) dimana pusat kegiatannya terletak pada peran strategis sumberdaya manusia.