Apakah anda seorang atasan? Jika ya berarti anda memiliki otoritas dan kekuatan tertentu untuk memimpin para subordinasi (bawahan) anda. Bisa jadi anda  sebagai CEO, manajer, dan mandor dari suatu perusahaan, atau ketua partai politik. Dalam menghadapi subordinasi apakah anda selama ini  banyak mengeluh tentang perilaku mereka terhadap anda dan dalam efektifitas pekerjaan? Dan bingung menghadapinya?

        Nah cobalah pertanyaan berikut anda jawab. Sebagai atasan apakah anda dihormati subordinasi? Atau bahkan sebaliknya, ditakuti? Apakah kehadiran anda dibutuhkan karyawan ataukah  malah “dicuekin”? Apakah anda berintegrasi dengan subordinasi (inklusif) ataukah eksklusif? Apakah anda sering menghargai upaya dan karya subordinasi secara eksplisit ataukah sangat jarang? Apakah anda merasa senang berada di tengah-tengah para subordinasi? Apakah anda selama ini memahami dan memiliki toleransi tentang kondisi pribadi individu dan keluarga subordinasi? Tidak tertutup kemungkinan ada pertanyaan di lingkungan kerja anda  “who’s the boss?”.Jika selama ini anda merasa belum menjadi atasan yang baik, lalu apa dan bagaimana sebaiknya yang perlu anda perbuat?

        Karena atasan pada dasarnya sebagai pemimpin maka anda dituntut menjadi orang terdepan di lingkungan subordinasi untuk menjadi teladan dalam berperilaku baik. Berikut  beberapa langkah strategis yang anda dapat lakukan:

Ø      Memahami keunikan karakter subordinasi sebagai sumberdaya manusia yang memiliki emosi, intuisi, dan kepribadian aktif serta permasalahan masing-masing.Mengetahui tentang subordinasi dengan baik berarti anda memahami kekuatan anda. Implikasinya dalam mengatasi persoalan individu tidaklah harus dengan pendekatan seragam. Selain itu perlu menghindari mengkritik subordinasi di hadapan umum agar tidak timbul reaksi emosi subordinasi yang negatif.

Ø      Membangun suasana perubahan inovatif yang bersinambung berbasis kebersamaan,  saling bergantung, dan saling menghargai dalam suatu tim kerja yang efektif. Karena itu diperlukan pendelegasian wewenang,  kepercayaan, dan pengembangan mutu SDM pada subordinasi secara proporsional.Anda perlu menghargai subordinasi kalau dia telah melakukan apapun yang bermanfaat bagi organisasi. Sebaliknya anda perlu menegur dan memberi petunjuk kepada subordinasi kalau dia berbuat keliru.

Ø      Menghindari timbulnya kesan dari subordinasi bahwa anda adalah  manusia super yang mampu menangani semua persoalan pekerjaan.Dan jangan sampai pula terdapat kesan anda adalah orang yang selalu paling benar. Karena itu saling bertukar pendapat dengan subordinasi perlu dikondisikan. Tidak harus merasa harga diri anda turun  kalau anda meminta pendapat pada subordinasi. Implikasinya anda harus  siap pula menerima masukan bahkan kritikan dari subordinasi.

Ø      Memberi perintah tanpa subordinasi  merasakan sebagai paksaan. Intinya setiap perintah harus jelas (tidak multitafsir) dan bernada ajakan untuk memikirkan apa yang harus dikerjakan subordinasi dengan baik. Anda juga harus membuka peluang untuk menjawab pertanyaan subordinasi kalau isi perintah dinilai masih tidak jelas atau bahkan memberatkan subordinasi.

Ø      Bersikaplah adil atau tidak memihak kalau di antara subordinasi ada yang konflik. Pelajarilah inti masalah dari konflik. Sejauh dapat diselesaikan oleh mereka sendiri, anda tidak perlu melakukan intervensi langsung. 

Iklan