Apakah kita pernah menggunakan logika secara sederhana dan atau sangat sederhana? Bahkan tanpa logika? Atau tidak sadar layaknya seorang yang bodoh? Atau sebaliknya bagai orang yang cerdik? Seperti yang dialami Nasrudin? Inilah kisahnya yang saya kutip dari  Republika Online (27 Agustus 2004 ).

Pada suatu hari Nasrudin mendengar ada seorang muda yang bisa bermain musik dengan amat bagus. Ia pun tertarik untuk belajar musik. Keesokan harinya, ia pergi ke kota dan menemui guru musik kenamaan. ”Tuan, saya ingin belajar musik, berapa bayarannya?” Guru itu sejenak melihat wajahnya, sebelum akhirnya menjawab, ”Murid-muridku membayar tiga dirham untuk bulan pertama, dan kemudian untuk tiap bulan berikutnya membayar satu dirham. Nasrudin berpikir sejenak dan kemudian berkata, ”Baiklah,” katanya, ”Saya akan mulai kursus pada bulan kedua saja.”