Mengapa kekerasan  di beberapa daerah kerap terjadi?. Ada yang berlatar belakang masalah perebutan aset lahan, penggusuran pedagang kaki lima, tuntutan upah dan pesangon, ketidakpuasan akan hasil pemilihan kepala daerah, dsb.  Agaknya  itulah sifat manusia kalau dalam kondisi tertekan. Tertekan kemiskinan membuat orang cenderung berbuat nekad mencuri hak orang lain. Tertekan oleh kekuasaan mutlak dari pimpinan organisasi akan dijawab dengan protes keras. Sementara itu tertekan akibat subordinasi sosial politik dan pluralistik pandangan, orang cenderung berbuat protes dan disusul anarkis fisik. Dalam bentuk non-fisik bisa  berujud menghujat dan menghina individu. Semua terjadi tanpa mempedulikan hirarki sosial, aturan dan peraturan  yang ada. Bertindak semau mereka saja.

Selain itu karena tertekan oleh kezaliman  pemimpin yang otoriter dan sistem yang bias, seseorang atau massa cenderung akan berbuat anarkis dan timbul dendam. Dendam merupakan penyakit mental berkepanjangan. Sangat berbahaya.Dalam hal ini para tokoh massa juga perlu menahan diri dan membimbing massa menjauhi kekerasan. Kalau malah menghasut tentu mereka harus dimintai pertanggungjawabannya. Sementara sumber dari ketidakpuasan massa termasuk para tokoh organisasi, pihak ketertiban dan keamanan, dan pemerintah seharusnya juga ikut bertanggung jawab. Mereka kerap tidak antisipatif. Malah mengabaikan dan sering menghadapi tuntutan massa dengan arogan dan represif.

Lalu bagaimana sebaiknya? Intinya diperlukan komunikasi dan kesolehan sosial kolektif dari semua pihak yang terlibat. Sebagai orang-orang yang beriman mereka seharusnya sabar ketika diuji dengan kemiskinan dan tekanan-tekanan lahir dan bathin, dan bersyukur serta dermawan ketika diuji dengan kenikmatan. Ada baiknya kalau dalam keadaan tertekan cepat-cepat istighfar…berdoa kepada Allah…mohon diberikan kekuatan kesabaran dan jalan keluar terbaik…jauhi perbuatan semena-mena. Apalagi merugikan lingkungan, termasuk orang lain.