Tidak mudah menjadi orang bijak. Coba lihat di sekeliling kita. Ada saja orang yang cenderung mengaku dirinya bijak. Dan bahkan tidak jarang, dengan sombongnya merasa dialah yang paling bijak. Orang lain disepelekan. Padahal…dalam kenyataannya tidak mudah menilai perilaku bijak. Nah, berikut kisah Nasrudin.         

         Pada suatu hari ada tiga orang bijak yang pergi berkeliling negeri untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mendesak. Sampailah mereka pada suatu hari di desa Nasrudin. Orang-orang desa ini menyodorkan Nasrudin sebagai wakil orang-orang  bijak dari desa tersebut. Nasrudin dipaksa berhadapan dengan tiga orang bijak itu dan di sekeliling mereka berkumpullah orang-orang desa menonton mereka berbicara.            

        Orang bijak pertama bertanya kepada Nasrudin, Di mana sebenarnya pusat bumi ini?. Nasrudin menjawab, ”Tepat di bawah telapak kaki saya, saudara”. Bagaimana bisa saudara buktikan hal itu? tanya orang bijak yang pertama lagi.”Kalau tidak percaya,” jawab Nasrudin, ”Ukur saja sendiri. Orang bijak yang pertama diam tak bisa menjawab.            

        Tiba giliran orang bijak kedua mengajukan pertanyaan. Berapa banyak jumlah bintang yang ada di langit? Nasrudin menjawab, ”Bintang-bintang yang ada di langit itu jumlahnya sama dengan rambut yang tumbuh di keledai saya ini”. Bagaimana saudara bisa membuktikan hal itu?, tanya orang bijak kedua tadi”           

         Nasrudin menjawab, ”Nah, kalau tidak percaya, hitung saja rambut yang ada di keledai itu, dan nanti saudara akan tahu kebenarannya”. Itu sih bicara goblok-goblokan, komentar orang bijak kedua. Lalu lanjutnya, bagaimana orang bisa menghitung bulu keledai. Nasrudin pun menjawab, ”Nah, kalau saya goblok, kenapa Anda juga mengajukan pertanyaan itu, bagaimana orang bisa menghitung bintang di langit?” Mendengar jawaban itu, orang bijak kedua pun tidak bisa melanjutkan sanggahannya.           

        Sekarang tampillah orang bijak ketiga yang katanya paling bijak di antara mereka. Ia agak terganggu oleh kecerdikan nasrudin dan dengan ketus bertanya. Tampaknya saudara tahu banyak mengenai keledai, tapi coba saudara katakan kepada saya berapa jumlah bulu yang ada pada ekor keledai itu. ”Saya tahu jumlahnya”, jawab Nasrudin. ”Jumlah bulu yang ada pada ekor keledai saya ini sama dengan jumlah rambut di janggut Saudara”. Bagaimana Anda bisa membuktikan hal itu?” tanya orang bijak ketiga lebih lanjut. ‘”Oooh, kalau yang itu sih mudah, jawab Nasrudin. Begini, Saudara mencabut selembar bulu dari ekor keledai saya, dan kemudian saya mencabut sehelai rambut dari janggut saudara. Nah, kalau sama jumlahnya maka apa yang saya katakan itu benar. Dan kalau tidak, yaaa saya yang keliru”.           

         Tentu saja orang bijak yang ketiga itu tidak mau menerima cara menghitung seperti itu. Dan orang-orang desa yang mengelilingi para orang bijak tersebut  semakin yakin bahwa Nasrudin adalah orang yang terbijak di antara empat orang tersebut. (dari buku Humor Sufi II, terbitan Pustaka Firdaus); (24 September 2004; Republika Online).