Ada  perusahaan yang memiliki kinerja bisnis tergolong bagus. Hal itu dicerminkan dari omset penjualan sesuai dengan dan bahkan melebihi target. Tingkat keuntungan bisnis pun  meningkat. Semua kinerja itu dihasilkan berkat kepemimpinan mutu direktur operasi perusahaan itu bernama Sukma. Setiap rancangan produksi dan penjualan dibuat dan diputuskan sendiri oleh dia. Subordinasinya hanya menjalankan petunjuk dari Sukma dan kemudian melaksanakannya. Itulah salah  bentuk koordinasi yang dilakukannya. Dengan kepemimpinan seperti itu tampaknya Sukma  menutup kontak alur gagasan dari subordinasinya. Dia sangat yakin semua keputusannya adalah tepat dan benar. Karena keberhasilannya kalangan direktur lainnya dan bahkan manajemen puncak merasa sangat segan terhadap Sukma.

             Suatu ketika salah seorang direktur bidang lainnya, sebut saja Wati, mengikuti suatu seminar bertema “kepemimpinan mutu”. Salah satu sub-topik yang dibahas adalah kekuatan dan kelebihan kepemimpinan model “one man show”. Kemudian dalam suatu kesempatan rapat direksi, Wati menginformasikan hasil dan kesan-kesan selama mengikuti seminar itu. Dalam rapat itu pimpinan puncak mengajak semua peserta rapat untuk membahas apakah model kepemimpinan “one man show” di perusahaan itu di nilai cocok. Hampir semua peserta kurang menyetujuinya karena model itu lebih banyak kelemahan ketimbang kekuatannya. Dalam jangka panjang akan merugikan perusahaan, tambahnya. Nah, bagaimana pendapat Anda tentang model kepemimpinan “one man show” itu.    

Iklan